Jumat, 15 Februari 2013

Gedung setan (Spookhuis)


Asal muasal nama gedung setan memiliki beberapa versi.  Versi tertulis di buku Oud Soerabaia (1931)karya von Faber yang dikutip Duncan Graham dalam artikelnya yang berjudul "Surabaya's Ghost House" di Majalah Latitude (2010) adalah sebagai berikut :  Pertama, setannya adalah salah satu penghuni rumah itu yang membunuh anak hasil hubungan gelapnya dan kedua adalah seorang budak kapal yang  memiliki cap (cap kepemilikan budak) dan berpesan tidak mau dimandikan jenazahnya ketika mati. Versi terjemahan bahasa Belanda Kuno von Faber ini memiliki sedikit variasi sana sini, terjemahan diatas diambil dari terjemahan HW Dick atas teks von Faber. Foto diatas diambil dari buku von Faber.

Ada kisah yang menyebutkan fungsi rumah setan dulunya sebagai tempat penyimpanan jenazah orang Tionghoa sebelum dimakamkan. Disitu jenazah disimpan, dimandikan dan diprosesikan menuju ke pemakaman yang berada persis di seberangnya (Pasar Kupang dan sekitarnya). Kisah ini dibuktikan dengan ukuran pintu gedung yang sangat tinggi agar prosesi pemakaman yang biasanya diikuti bendera bendera bisa lewat disitu. Tapi ini tidak dibuktikan dengan catatan tertulis bahkan fungsi rumah jenazah itupun dipertanyakan kebenarannya. Foto berikut adalah foto udara tahun 1948 , gedung setan ada di sebelah kanan hanya tampak sedikit. Situasi makam di depannya memberikan gambaran keangkeran.
 

Rumah ini dibangun untuk ditinggali oleh pemilik pertamanya yaitu J.A. Middelkoop yang membeli area Kupang dari Daendels seharga 4.000 rijksdalders. Julukan rumah setan ini diduga Purnawan Basundoro dalam bukunya "Dua Kota Tiga Zama : Surabaya dan Malang" ( 2009) sudah melekat di benak penduduk Surabaya sejak awal abad ke-20. Keberadaan Rumah Setan ini kemungkinan satu-satunya simbol awal munculnya istilah tanah partikelir di Surabaya.Mengingat ukurannya yang lebih mencolok mata dibanding semua bangunan sejamannya (bahkan hingga kini) dan keterkaitannya dengan sejarah pertanahan di Surabaya, rumah ini layak dimasukan dalam Cagar Budaya.

Middelkop membangun rumah tahun 1809 dan wafat di Kupang (ini Kupang Surabaya atau Kupang di NTT, masih perlu diselidiki lagi. Nama Middelkoop juga terkenal dengan misi Kristennya di kepulauan Timur Indonesia tsb).  Menurut buku Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe III karya Dukut Imam Widodo (2008), Middelkoop meninggal di Surabaya (di Kupang Surabaya?) bahkan dimakamkan di belakang rumah setan ini. Inilah foto makam Middelkop dari buku HSTD III.


 Beberapa tahun menempati rumah setan, rumah berpindah tangan ke orang Tionghoa. Pada masa von Faber pemilik rumah itu adalah Dr. Teng Sioe Hie. Ada pendapat gedung setan diambil dari nama Tionghoa pemiliknya yang bermarga Tan (She Tan).  Jika menilik sejarah orang Tionghoa di Surabaya, dugaan ini mungkin berdasar mengingat Keluarga Tan sempat berjaya di Surabaya sebelum Keluarga Han. Namun apakah benar rumah ini pernah di miliki keluarga Tan, harus dibuktikan lebih lanjut.
 Artikel Duncan Graham yang dapat dibaca di link berikut : http://latitudes.nu/surabaya%E2%80%99s-ghost-house/ cukup mewakili kelanjutan episode rumah setan setelah 80 tahun ditulis von Faber. Situasi saat ini berikut penduduk yang menempatinya menyajikan liputan yang cukup menarik. Foto berikut diambil dari artikel Duncan Graham yang menunjukkan atap gemuk yang tampak mbleshek tinggal tunggu roboh.

STD memiliki argumen sendiri tentang sebutan rumah setan. Argumen ini diambil dari kenyataan kebiasaan orang-orang Timur (Jawa) dalam mengkaitkan hal-hal luar biasa dengan kegaiban. Ketika kaum muslim menguasai Spanyol dan melihat untuk pertama kalinya aquaduct  raksasa di Segovia yang disanggah struktur lengkung bikinan orang Romawi (Kaisar Tranjan 100 M), mereka menyebutnya Jembatan Setan. Setan dikaitkan dengan teknologi sipil yang luar biasa ukuran waktu itu. Sebuah buku karya F.F Habnit berjudul "Kreta Setan, De Duivelswagen" merekam ketakjuban penduduk Jawa melihat kereta tanpa kuda yang bisa berjalan sendiri. Sebuah buku berjudul "Life in Java jilid 1 " karangan William Barington D'Almeida (1864) hal 100-101 mencatat ketakjuban penduduk Jawa yang bekerja di Artillerie Constructie Winkel melihat mesin-mesin berjalan sendiri dan barang berat bisa terangkat berkali-kali. Apakah keistimewaan rumah setan sehingga menurut argumen STD istilah Spookhuis / Duivelhuis telah muncul ketika gedung itu selesai dibangun?

Kita bayangkan situasi tahun 1810. Daendels menjual kapling-kapling tanah dan Middelkoop membeli salah satu parsel tanah Kupang tersebut. Di peta Surabaya 1825, kota Surabaya masih seputar Jembatan Merah meliputi Dutch Quarter, Kampung China, Arab dan Melayu. Di selatannya komplek Keraton Surabaya meliputi masjid, pasar besar dan alun alun berposisi di Tugu Pahlawan. Perkampungan yang padat membatasi area Keraton yaitu Kramat Gantung dan Pasar Besar. Masa Daendels rumah sakit Simpang dibangun, kopleks Hobiro dibangun dan Jalan Raya Pos dibangun. Grahadi telah dibangun dan pada masa Daendels pintu depannya yang menghadap sungai dijadikan pintu belakang, Grahadi menghadap Jalan Simpang. Praktis tidak ada bangunan wah di Surabaya selepas Simpang. Bahkan RS Simpang maupun Grahadi tidaklah spektakuler. Dengan situasi ini, jauh dari keramaian, jauh dari Jalan Pos, tiba tiba muncul sebuah rumah berukuran masif dan mencolok mata. Bahkan saat inipun jika kita meluangkan waktu untuk memandang rumah setan dengan cukup, kesan ini masih terasa. Sebuah struktur yang membawa kebanggaan atau wibawa pemiliknya. Sebutan apa yang cocok untuk fenomena tidak lasim ini? Rumah setan! Keberadaan pemakaman Tionghoa di depannya mungkin baru muncul belakangan karena peta 1825 peta Surabaya berhenti di Keputran (sisi utara Pandegiling) dan makam Tionghoa sepertinya masih longgar di Kebangsren. Keberadaan makam Tionghoa di Kupang, Pandegiling dan Pasar Kembang kemudian juga mendukung setting rumah setan.

Rumah dengan atap Kegemukan (minjam istilah partisipan STD : Nugroho Matair) ini satu-satunya yang berukuran segemuk ini. Di Grahadi simpang kita menemukan gedung yang mirip tapi tidak sebesar ini ukurannya. Efek penampakan seheboh ini tidak heran akan membangkitkan memori kolektif seputar kegaiban.


                       Sisa Tempat Persembayangan arwah leluhur yang jadi tempat parkir sepeda

NG: Gedung ini signifikan dalam sejarah Surabaya. Selain umurnya yang tua, bentuknya unik, keberadaan dan sejarah fungsinya juga sangat terkait dengan sejarah Surabaya itu sendiri.  Anda setuju?

1 komentar:

  1. Gimana ya cara saya bisa mengelola dan memperbaikinya harus minta kesiapa , mungkin ada yang tahu tolong di email ke hu_willy_hu@yahoo.co.id

    BalasHapus