Minggu, 08 April 2012

DIALEKTIKA KEYAKINAN DEWASA INI

Manusia adalah biang keyakinan.. muncul dari pemikiran manusia-manusia super yang mendapatkan sebuah nyala api dalam kepekatan malam oleh sang cahaya. keyakinan menimbulkan ribuan tradisi yang bermacam-macam, dari suatu hal yang dapat dikatakan rasional maupun irasional. kemudian tradisi tersebut menimbulkan sebuah faham aliran yang saat ini sudah ratusan bahkan ribuan cahaya yang samar-samar ditengah gemerlap cahaya hingar-bingar perkotaan.
Kekolotan pun kadang memunculkan taring dan tanduknya guna mendepak pemikiran lain yang tak sejalan dengan apa yang telah ia anggap benar sesuai dengan ego pemikiran yang cenderung absurd. padahal keyakinan itu sendiri bukanlah suatu benda atau sosok yang simple, melainkan sebuah perwujudan yang abstrak di pemikiran manusia yang cenderung kompleks. pola pikir yang kompleks ini bukan hanya sebuah pola fikir yang dua demensi, melainkan berjuta-juta demensi yang tidak selalu fertikal ataupun horizontal. demensi tersebut terkadang cenderung frontal dan rapuh sekali sehingga mudah ti konfrontir dengan dimensi lain yang tidak sejalan lewat pemutar balikan fakta lewat bahasa-bahasa dialektika yang hanya sebagian orang memahami apa yang terkandung didalam gaya bahasa tersebut.
manusia merupakan makhluk tanah yang memiliki intelegensia yang tinggi dibandingkan makhluk lainnya, memiliki pemikiran, rasa maupun karsa. pemikiran manusia tak selalu profan untuk difikirkan, namun juga terkadang cenderung sakral. suatu pemikiran tentang kesakralan inilah yang membuat seseorang menjadi kolot dalam menyikapi pemikiran sakral lainnya. sebuah kesakralan dalam proses berfikir setiap individu, merupakan perwujudan sebuah kemutlakan tersendiri yang di yakini setiap individu. sehingga tak jarang terjadi sebuah konflik sosial yang berbau SARA di masyarakat "semi modern" saat ini. mengapa dikatakan semi modern bukan masyarakat yang modern?. dikarenakan masyarakat dewasa ini memang hidup di antara sistem-sistem modernitas yang glamor, namun dilain sisi masih juga menganut suatu spiritual tradisional yang merupakan warisan pala leluhur sejak zaman dahulu. orang-orang semi modern ini adalah masyarakat ketimuran yang hidup di sebuah kota-kota metropolitan bahkan megapolitan. kemudian bagai mana dengan pedesaan?, terkadang masyarakat pedesaan lebih cenderung bersifat chauvinis. dimana manusianya terkotak-kotak dalam dimensi suku, ras, agama, maupun antar golongan.
ketersekatan masyarakat dewasa ini dapat diambil dari contoh dari yang paling simple, diantaranya dalam bidang pendidikan. saat ini masih banyak sistem maupun penamaan suatu tempat pembelajaran khususnya sekolah, yang masih menggunakan nama-nama yang berbau golongan-golongan tertentu. contoh sekolah islam naunggan NU dengan sekolah islam naungan Muhamadiah, sangat mudah sekali untuk diketahui lewat penamaan sebuah lembaga pendidikan. selain itu sekolah-sekolah yang bernafaskan kekristenan juga mudah sekali untuk dilihat, tanpa perlu adanya pengamatan yang teliti dalam melihat visi dari setiap lembaga pendidikan tersebut. lembaga pendidikan inilah yang membibit tokoh-tokoh yang nantinya akan menggantikan para tokoh yang saat ini menaungi kedudukan atau jabatan dalam tingkatan sosial yang ada.
pernahkah kita berfikir bahwa islam itu adalah sebuah dialektika yang memiliki sifat umum, pernahkah kita berfikir mengenai ke khususan yang berbeda-beda dalam islam. kekhususan ini sering muncul dalam aliran-aliran yang memiliki nama-nama yang berbeda-beda, pemikiran yang berbeda serta pola yang bebeda. tak hanya islam yang berbeda-beda pemikiran. agama lain pun juga memiliki keragaman pola fikir. salah satu contoh adalah kristen. kristen adalah sebuah kata untuk menyebutkan masyarakat penganut kristus di dunia. namun kristen adalah bahasa umum sama dengan islam. kristen juga memiliki puluhan aliran yang berbeda. begitu pula dengan hindu. jika kitalihat masyarakat hindu bali dengan hindu tengger pasti terlihat perbedaan yang mencolok. apalagi perbedaan yang terjadi di antara hindu di indonesia dengan hindu di tanahnya yaitu hindia, banyak perbedaan yang mencolok di dalamnya. salah satu contoh dalam hal kuil atau tempat ibadah masyarakat hindu. di india candi lebih sering di gunakan untuk tempat pumujaan sedangkan di indonesia, kuil atau candi selain digunakan untuk tempat pemujaan juga merupakan tempat penasbihan suatu raja, guna untuk mengenang kehidupan sang raja. sering pula penasbihan sang raja atau keluarga raja diwujudkan dalam arca2 suci yang diserupakan dengan sang raja.
agama merupakan sebuah bentuk pemikiran manusia yang bersumber pada cahaya pencipta yang akhirnya menjadi suatu tradisa dan menjadi sebuah aliran-aliran yang berbeda. maka dari itu dalam menyikapi agama lain atau aliran lain kita tidak boleh dengan kolotnya memandang sebelah mata tanpa melihat golongan atau keyakinan lain dari sisi yang lain. contoh: dalam melihat sebuah cover buku. jika kita melihatnya dari depan yang terlihat adalah warna merah. namun apa yang terjadi dengan orang yang melihat buku tersebut dari belakang? belum tentu orang di belakang mengatakan warna buku itu merah. kadang disebut dengan warna putih. dikarenakan kekolotan tanpa melihat dari sisi yang lain beberapa kelompok tersebut akhirnya terjebak dalam konflik-konflik frontal akibat sebuah kekolotan dalam menyikapi keyakinan hanya dari sebelah sisi. keyakinan itu kompleks, tak hanya dapat dipandang dari satu atau dua sisi. lebih banyak sisi di dalamnya. maka manusia harus bijak dalam menyikapi sebuah keyakinan serta perlu belajar keyakinan lain. tak hanya belajar keyakinan yang besifat umum namun juga mempelajari sesuatu yang khusus. maka, sebelum menyikapi agama lain, belajarlah secara detail agama yang akan kalian sikapi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar