Rabu, 01 Juni 2011

Perkembangan Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia


Perkembangan Bangunan Etnis Tionghoa di Indonesia
(Akhir Abad ke 19 sampai tahun 1960 an)

Oleh:
Handinoto


Architecture is one mayor permanent, visible, and tangible means for the culturall identification of a society. Exteriors and interiors of home, community structure, and religius edifices bear witness to the affinities of taste, physical requirements of occupation or residence, and the symbolic manifestation of cultural values of the society. All architectures rests upon the past and embodies the ideas of earlier generations (David. G. Khol – Chinese Architecture , hal. 20)     

Pendahuluan.

Orang Tionghoa sudah mengenal Nusantara sejak abad ke 5 masehi. Selama beberapa abad orang-orang Tionghoa terus bertambah jumlahnya. Tapi tidak ada catatan yang jelas berapa jumlahnya diseluruh Nusantara. Catatan tentang angka didapat dari cacah jiwa yang diadakan pada masa pemerintahan Inggris di Jawa (th. 1811-1816). Dari buku “History of Java” karya Rafles tercatat bahwa orang Tionghoa sudah banyak yang menyebar ke pedalaman Jawa. Jumlahnya pada th. 1815 di Jawa ada 94.441 orang [1]. Sedang penduduk Jawa secara keseluruhan waktu itu berjumlah 4.615.270, berarti 2,04% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.  Sebagian besar penduduk  Tionghoa hidup secara berkelompok di kota-kota pesisir Jawa. Sampai th. 2005 orang Tionghoa di Indonesia berjumlah kurang lebih 6 juta orang berarti berkisar 3% dari seluruh jumlah orang Indonesia yang waktu itu berjumlah lebih dari 200 juta orang.
                Secara budaya masyarakat Tionghoa-Indonesia dapat dibagi menjadi kalangan peranakan berbahasa Indonesia dan kalangan totok berbahasa Tionghoa[2] (Suryadinata,2005:1).Orang Tionghoa yang ada di Indonesia sekarang, dulunya sebagian besar berasal dari propinsi-propinsi China Selatan (Guangdong dan Fujian). Kebanyakan mereka ini berasal dari kalangan pekerja (buruh, petani, nelayan dan sebagainya). Maka arsitektur yang dibawanya menunjukkan tradisi kerakyatan. Suatu bentuk phisik dari kebudayaan yang merupakan kebutuhan akan nilai, usaha untuk mewujudkan keinginan, impian dari kebutuhan manusia. Hal yang demikian tentunya jauh dari tradisi besar arsitektur (the grand architectural tradition) di China, yang meliputi struktur imperial dari daerah China Utara, yang tidak berhubungan langsung dengan kebudayaan mayoritas rakyatnya.  
Pada umumnya permukiman Tionghoa pada kota-kota di Jawa sampai th. 1900 an terdapat di daerah Pecinan. Sejak th. 1835 pemerintah kolonial Belanda membuat undang-undang yang disebut sebagai wijkenstelsel [3], yang sangat membatasi gerak orang Tionghoa dari daerah permukimannya (Pecinan). Baru pada tahun 1910 an undang-undang tersebut dihapuskan. Itulah sebabnya sampai th. 1900 an arsitektur Tionghoa di Nusantara pada umumnya terletak di daerah Pecinan.
Sampai th. 1900 an kita masih dapat melihat banyak arsitektur yang bergaya China di daerah Pecinan di Jawa. Tapi sesudah th. 1900 terdapat perkembangan yang cukup signifikan dalam masyarakat peranakan Tionghoa di Jawa[4]. Sesudah dihapuskannya undang-undang Wijkenstelsel, permukiman Tionghoa menempati daerah-daerah perdagangan yang strategis, diseluruh kota. Sebagian elite lokalnya membangun rumah-rumah modern diluar daerah yang dulunya terkenal dengan sebutan Pecinan. Perubahan pembaharuan tersebut berdampak langsung pada tampilan arsitekturnya. Ditambah dengan dibukanya sekolah-sekolah Belanda yang boleh dimasuki oleh sebagian kecil orang Tionghoa seperti HCS, MULO maupun AMS, maka pembangunan rumah-rumah modern orang Tionghoa secara tidak langsung berakibat menipisnya unsur-unsur arsitektur tradisional Tionghoa nya, bahkan boleh dibilang hilang sama sekali. Kejadian seperti ini terus berlanjut sampai setelah kemerdekaan 1945.
Pada tahun 1967 rezim ‘orde baru’ mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) Nomor 14 Tahun 1967, yang isinya melarang perayaan-perayaan, pesta agama dan adat istiadat Tionghoa. Peraturan tersebut jelas-jelas sangat menghambat perkembangan kebudayaan etnis Tionghoa di Indonesia. Baru pada pasca kerusuhan Mei 1998, bermacam-macam kelonggaran diberikan kepada komunitas Tionghoa. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dikeluarkan Kepres (Keputusan Presiden) Nomor 6 Tahun 2000, tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967. Ini merupakan pengakuan bahwa masyarakat China adalah bagian dari bangsa Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri , Hari Raya Imlek ditetapkan dalam daftar tanggal merah almanak Indonesia. Sampai saat ini dapat dikatakan arsitektur etnis China di Indonesia sudah lama mati suri.


Beberapa Ciri dari Arsitektur Tionghoa di daerah Pecinan sampai sebelum th. 1900.

            David G. Khol (1984:22), menulis dalam buku “Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya”, memberikan semacam petunjuk terutama bagi orang awam, bagaimana melihat ciri-ciri dari arsitektur orang Tionghoa yang ada terutama di Asia Tenggara. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut :

·         “courtyard
·         Penekanan pada bentuk atap yang khas.
·         Elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang-kadang disertai dengan ornamen ragam hias)
·         Penggunaan warna yang khas.


Courtyard.
            Courtyard merupakan ruang terbuka pada rumah China. Ruang terbuka ini sifatnya lebih privat. Biasanya digabung dengan kebun/taman. Rumah-rumah gaya China Utara sering terdapat courtyard yang luas dan kadang-kadang lebih dari satu, dengan suasana yang romantis. Tapi di daerah China Selatan dimana banyak orang Tionghoa Indonesia berasal, courtyard nya lebih sempit karena lebar kapling rumahnya tidak terlalu besar (Khol, 1984:21). Rumah-rumah orang-orang Tionghoa Indonesia yang ada di daerah Pecinan jarang mempunyai courtyard. Kalaupun ada ini lebih berfungsi untuk memasukkan cahaya alami siang hari atau untuk ventilasi saja. Courtyard pada arsitektur Tionghoa di Indonesia biasanya diganti dengan teras-teras yang cukup lebar.



 






















Penekanan pada bentuk atap yang khas.
            Semua orang tahu bahwa bentuk atap arsitektur China yang paling mudah ditengarai. Diantara semua bentuk atap, hanya ada beberapa yang paling banyak di pakai di Indonesia. Diantaranya jenis atap pelana dengan ujung yang melengkung keatas yang disebut sebagai model Ngang Shan (lihat Gb.4.)








Gb.2. Atap model Wu Tien, jarang
dijumpai di Indonesia
 

Gb.4. Atap model Ngang Shan.
Atap model ini yang sering dipakai di
daerah Pecinan Indonesia.
 



Gb.3. Atap model Hsuan Shan, jarang
dipakai di Indonesia.
 


 









 
























Elemen-elemen struktural yang terbuka (yang kadang-kadang disertai dengan ornamen ragam hias)
            Keahlian orang Tionghoa terhadap kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu, tidak dapat diragukan lagi. Ukir-ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan China. Detail-detail konstruktif seperti penyangga atap (tou kung), atau pertemuan antara kolom dan balok, bahkan rangka atapnya dibuat sedemikian indah, sehingga tidak perlu ditutupi. Bahkan diperlihatkan telanjang, sebagai bagian dari keahlian pertukangan kayu yang piawai.









Sumber foto: LMF Purwanto
Gb.9. Struktur penyangga atap yang menjadi salah satu ciri khas rumah-rumah orang China di daerah Pecinan.
 

Sumber foto: Honky Zein
Gb.10 Struktur Kayu penyangga atap pada kelenteng Cu An Kiong, Lasem. Penyelesaian struktur diperlihatkan sebagai bagian dari dekorasi ruangan
 


Sumber Foto: Honky Zein
Gb.11. Pertemuan antara kolom dan balok dengan hiasan ukiran di kelenteng Cu An Kiong, Dasun, Lasem.

 



Gb. !2. Rangka penyangga atap yang diperlihatkan sebagai
dekorasi pada rumah di daerah Pecinan.
 

 






























Penggunaan warna yang khas.
             Warna pada arsitektur China mempunyai makna simbolik. Warna tertentu pada umumnya diberikan pada elemen yang spesifik pada bangunan. Meskipun banyak warna-warna yang digunakan pada bangunan, tapi warna merah dan kuning keemasan paling banyak dipakai dalam arsitektur Tionghoa di Indonesia. Warna merah banyak dipakai di dekorasi interior, dan umumnya dipakai untuk warna pilar. Merah  menyimbolkan warna api dan darah, yang dihubungkan dengan kemakmuran dan keberuntungan. Merah juga simbol kebajikan, kebenaran dan ketulusan. Warna merah juga dihubungkan dengan arah, yaitu arah Selatan, serta sesuatu yang positif. Itulah sebabnya warna merah sering dipakai dalam arsitektur China.



Gb.13. Warna merah mendominasi
warna kelenteng Liong Tjwan Bio di Probolinggo.
 
 











   







Jenis-Jenis Bangunan Etnis China di Indonesia.
           
Sebagian besar arsitektur Tionghoa sebelum th. 1900 ada di daerah Pecinan. Kawasan Pecinan yang relatif sempit dan berpenduduk sangat padat tidak memungkinkan adanya bangunan dalam skala besar. Pada umumnya jenis bangunan arsitektur Tionghoa yang ada di Pecinan adlah sbb:

-          Kelenteng.
-          Ruko (rumah toko)
-          Rumah Tinggal.


Kelenteng.

            Kelenteng tidak sekedar tempat kehidupan keagamaan berlangsung. Tapi juga merupakan ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya. Itulah sebabnya penelitian mengenai  sebuah kelenteng dapat memberikan sumbangan sangat berharga untuk memahami sejarah sosial masyarakat Tionghoa setempat. Seperti diketahui bahwa pada masa penjajahan Belanda masyarakat Tionghoa yang digolongkan sebagai Vreemde Oosterligen (Timur Asing), dikepalai oleh pemimpin kelompok yang tunjuk oleh pemerintahan kolonial. Pemimpin ini biasanya diberi pangkat seperti letnan, kapten[5] atau kalau jumlah penduduk Tionghoa setempat cukup banyak terdapat seorang mayor. Lalu apa hubungan antara para opsir Tionghoa ini dengan kelenteng? Tugas opsir Tionghoa selain mengawasi masyarakatnya, juga bertanggung jawab atas pemungutan pajak, mengatur monopoli terhadap barang tertentu dibidang ekonomi, mengurus kelenteng-kelenteng, serta membiayai upacara-upacara keagamaan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah mengurus pemakaman/pekuburan. Gong-guan [6] (Kong-kwan-Hokkian) atau dewan Tionghoa, yang dalam bhs Belanda terkenal dengan sebutan Chineeseraad diadakan untuk membantu pekerjaan ‘administratif’ mayor Tionghoa .Jadi kedudukan opsir Tionghoa sangat penting di dalam organisasi masyarakatnya. 
            Opsir Tionghoa biasanya berasal dari keluarga kaya di daerahnya. Mereka ini tidak jarang menguasai jalur perdagangan komoditas tertentu di daerahnya. Di Pasuruan misalnya keluarga opsir Tionghoa menguasai perdagangan peredaran opium serta penggilingan gula (sugar mill). Tidak jarang mereka ini mayoritas hanya berasal dari keluarga tertentu saja. Di Surabaya para opsir Tionghoa dulu banyak berasal dari 3 keluarga besar saja yaitu keluarga Han, The[7] dan Tjoa. Demikan juga halnya dengan di Pasuruan para opsir Tionghoa ini berasal dari keluarga Han[8] (yang asal usulnya dari Surabaya) dan keluarga Guo (Kwee – Hokkian), yang berasal dari Semarang. Karena para opsir ini juga berfungsi sebagai pengurus kelenteng maka tidak jarang mereka ini membiayai upacara-upacara keagamaan. Pada sebuah kelenteng tidak jarang kita jumpai semacam prasasti di kelenteng tersebut. Tidak jarang nama para opsir atau penyumbang kelenteng yang lain diabadikan dalam bentuk tulisan dalam prasasti tersebut.
Sulit untuk meng-generalisasi bentuk sebuah kelenteng. Karena kelenteng sendiri selain bermacam-macam jenisnya, juga besar kecilnya sangat bervariasi. Dewa-dewa yang ada di setiap kelentengpun berbeda satu sama lain. Meskipun sebagian besar dewa yang terdapat di kelenteng Asia Tenggara pada umumnya adalah Mak co atau Mazu atau Thiansan Seng Bo[9].
 Tapi secara phisik bangunan kelenteng pada umumnya terdiri dari empat bagian. Yaitu: Halaman Depan, Ruang Suci Utama, Bangunan Samping dan Bangunan Tambahan.
   Yang pertama adalah Halaman Depan yang cukup luas. Halaman ini digunakan untuk upacara keagamaan berlangsung. Lantai halaman depan ini kadang-kadang dilapisi dengan ubin, tapi tidak jarang hanya berupa tanah yang diperkeras. Perlu dimaklumi bahwa tata cara peribadahan di kelenteng memang tidak dilakukan bersama-sama pada waktu tertentu, seperti di gereja atau mesjid. Cara peribadahan di kelenteng dilakukan secara pribadi, sehingga di dalam kelenteng tidak terdapat ruang yang luas untuk menampung umat.
 Upacara perayaan keagamaan seperti Cap Gomeh atau sembayang rebutan (pu-du, pesta Tionghoa pada pertengahan bulan ke-7, biasa disebut  juga ‘rebutan’ atau cioko), bahkan wayang Tionghoa atau potehi (bu-dai-xi), juga digelar dihalaman depan ini. Pada peresmian kelenteng Tjoe Tik Kiong tgl. 15 Oktober, th 1857 di Pasuruan, diadakan pertunjukan wayang potehi di halaman depan kelenteng. Tidak jarang halaman depan ini juga dipakai untuk tempat bermain barongsai.  Di halaman depan ini biasanya juga terletak tempat pembakaran kertas (jin-lu), tiang-tiang pagoda atau tidak jarang juga sepasang singa batu (kadang-kadang tertera tahun pembuatannya).
Yang kedua, adalah Ruang Suci Utama, merupakan bagian utama dari sebuah kelenteng. Bangunan kelenteng biasanya mempunyai ragam hias yang indah dan detail sekali. Atapnya berbentuk perisai dengan ‘nok’ melengkung ditengah serta ujungnya melengkung keatas. Nok selalu sejajar dengan jalan. Diatas nok tersebut biasanya terdapat sepasang naga yang memperebutkan ‘mutiara surgawi’. Kelenteng-kelenteng kuno mempunyai hiasan yang sangat indah. Tukang-tukang sekarang jarang bisa mereparasi kembali kalau terjadi kerusakan. Tampak depannya kadangkala terdapat semacam teras tambahan. Pintu depannya terdiri dari dua daun kayu yang sering dihias dengan lukisan dua orang penjaga (men-sen). Tapi banyak kelenteng yang pintunya dibiarkan terus terbuka. Biasanya didepan atau didalam ‘ruang suci utama’ ini selalu terdapat papan yang melintang (bian-e) atau papan membujur (dui-lian), sumbangan bagi para dermawan selama berabad-abad. Dari tulisan ini kadang-kadang kita bisa mendapat informasi tentang sejarah kelenteng serta masayarakat pendukungnya dimasa lampau.  Ukuran besar dan kecilnya ruang suci utama ini berbeda pada setiap kelenteng. Tapi pada umumnya berbentuk segi empat. Di kelenteng-kelenteng besar terdapat semacam courtyard ditengahnya yang digunakan sebagai tempat pemasukan cahaya alami, serta menampung air hujan dari atap. Konstruksi utamanya adalah kolom dan balok. Tidak jarang kolom yang ada di dalam interiornya dipahat dengan dengan sangat indah. Sebuah altar utama terdapat pada dinding belakang ruang suci utama ini. Dewa utama terletak disini. Di depan altar paling tidak terdapat sebuah meja . Kadang-kadang lebih dari satu. Sering juga diapit dengan dua altar samping. Di kelenteng Tjoe Tik Kiong Pasuruan terdapat dewa utama yaitu Tianhou yang didatangkan dari Tiongkok .Disamping itu masih terdapat dewa-dewa lain seperti: Guanyin, Tudi Gong dan Jialan yang juga didatangkan dari Tiongkok pada th 1857. Diatas meja pertama selalu terdapat tempat pedupaan. Di depan tempat pedupaan terdapat beberapa batang hio yang selalu mengepulkan asap. Di meja altar depan sering terdapat mu-yu, semacam alat bunyi-bunyian dari kayu, dan khususnya sesajen-sesajen tertentu berupa bauh-buahan, kue-kue dan makanan. Meja ini penuh makanan terutama pada hari-hari raya keagamaan. Di dekat pedupaan ini sering terdapat benda-benda penting, yang memungkinkan para dewa dapat ditanya tentang masa depan. Misalnya seperti bei-jiao (dua potong kayu berbentuk tiram yang dapat dilempar ke tanah) dan sebuah vas kayu berbentuk silinder (gian-tong), yang berisi lusinan bilah kayu (bu-qian) didalamnya. Tiap-tiap bilah cocok dengan syair yang tertulis pada secarik kertas yang merupakan jawaban sang dewa. Orang yang sembahyang mengocok vas tersebut, sampai sebilah kayu akan jatuh kelantai lalu mengambil secarik kertas bernomor yang sesuai dengan kayu tadi dari salah satu laci sebuah lemari kecil. Ada kelenteng tertentu kadang-kadang kita juga bisa meminta kertas (hoe), untuk keselamatan dan kesehatan. Kelenteng Kwan Sing Bio di Tuban misalnya terdapat hal seperti itu.  Besar kecil ruang suci utama ini sangat bervariasi dari satu kelenteng dengan kelenteng lainnya.
Yang ketiga, adalah ruang-ruang tambahan, ruang ini sering dibangun kemudian setelah ’ruang suci utama berdiri’. Bahkan tidak jarang dibangun setelah kelenteng berdiri selama bertahun-tahun. Hal Ini disebabkan karena adanya kebutuhan yang terus meningkat dari kelenteng yang bersangkutan.
Yang keempat adalah bangunan samping. Bangunan ini biasanya dipakai untuk menyimpan peralatan yang sering digunakan pada upacara atau perayaan keagamaan. Misalnya untuk menyimpan Kio (joli), yang berupa tandu, yang digunakan untuk memuat arca dewa  yang diarak pada perayaan keagamaan tertentu. Kelenteng Tay Kak Sie di Semarang atau kelenteng Cu An Kiong di Lasem, sering mengadakan perayaan seperti itu.






Gb.14. Kelenteng Tai Kak Sie di Gang Lombok Semarang
 
 

















Ruko.

Selain kelenteng, ruko merupakan bangunan yang khas Pecinan. Khol (1984)  yang banyak mengunjungi kota-kota pelabuhan (kota bawah) di propinsi Guangdong dan Fujian serta daerah Pecinan di kota-kota pantai Asia Tenggara, mengatakan bahwa ruko merupakan “landmark” di kota-kota tersebut. Penulis Barat  Alain Viaro  (1992), pada tulisannya yang berjudul: “Is The Chinese Shophouse Chinese”?, meragukan bahwa Ruko ini berasal dari China. Dalam argumennya dia memberi hipotesa bahwa ruko terjadi sebagai percampuran arsitektur akibat perdagangan disepanjang kota-kota pantai antara China dan Asia Tenggara oleh orang Barat, China dan penduduk setempat. Itulah sebabnya Ruko terdapat pada hampir semua kota-kota pantai di daerah China selatan sampai Asia Tenggara.
Salah satu ciri khas daerah Pecinan adalah kepadatannya yang sangat tinggi. Ruko (shop houses) merupakan ide pemecahan yang sangat cerdik untuk menanggulangi masalah tersebut. Ruko merupakan perpaduan antara daerah bisnis dilantai bawah dan daerah tempat tinggal dilantai atas. Bangunan tersebut membuat suatu kemungkinan kombinasi dari kepadatan yang tinggi dan intensitas dari kegiatan ekonomi di daerah Pecinan. Bahkan ada suatu penelitian di satu daerah Pecinan yang terdiri dari deretan ruko-ruko, bahwa 60% dari luas lantai diper­untukkan bagi tempat tinggal dan 40 % nya dipergunakan untuk bisnis.
Ilmu ruang China yang sering disebut sebagai Fengshui, sering diterapkan pada bangunan ruko pada masa lampau. Fengshui  di dasari oleh gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos dan menyejajarkan aturan-aturan yang menentukan terjaganya harmoni-harmoni kosmis itu, khususnya aturan-aturan pembangunan rumah. Untuk menentukan arah para pakar menggunakan semacam kompas khusus (luopan) yang berpenampilan rumit, sedang untuk menunjuk ukuran, mereka menggunakan penggaris khusus yang panjang­nya 43 cm. Teknik-teknik tersebut telah diperkenalkan di Jawa sejak abad ke 17 (Lombard, 1996, jilid 2: 227).
Bentuk dasar dari ruko di daerah Pecinan dindingnya terbuat dari bata dan atapnya berbentuk perisai dari genting. Setiap unit dasar mempunyai lebar 3 sampai 6 meter, dan panjangnya kurang lebih 5 sampai 8 kali lebarnya.  Pada setiap unit ruko terdapat satu atau dua meter teras sebagai transisi antara bagian ruko dan jalan umum. Bentuk ruko yang sempit dan memanjang tersebut menyulitkan  pencahayaan dan udara bersih yang sehat masuk kebagian tengah dan belakang. Untuk mengatasi hal itu maka dipecahkan dengan pembukaan dibagian tengahnya, yang bisa langsung berhubungan dengan langit (berupa “cour­tyard”).
Sebelum adanya infrastruktur dasar kota seperti suplai air bersih, listrik dan transportasi publik (baru ada di kota-kota besar di Jawa setelah th. 1920 an), maka perumahan ruko tersebut air bersihnya di suplai dengan sumur (yang ditaruh didaerah courtyard) dan penerangannya dengan lampu minyak tanah. Sedangkan transportasi publik yang sederhana mengakibatkan jalan-jalan didaerah Pecinan yang sudah padat tersebut bertambah padat dengan kendaraan pedati cikar dan dokar (delman). Oleh sebab itu orang-orang Tionghoa yang sudah kaya rumah tinggalnya kemudian pindah kedaerah yang lebih longgar, meskipun tempat kerjanya tetap didaerah Pecinan.
Satu deretan ruko bisa terdiri dari belasan unit yang digandeng menjadi satu. Dan orang-orang yang lebih kaya bisa memiliki lebih dari 1 unit dalam deretan ruko tersebut. Pada awal perkembangannya detail-detail konstruksi dan ragam hiasnya sarat dengan gaya arsitektur Tionghoa. Tapi setelah akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20 sudah terjadi percampuran dengan sistim konstruksi (mulai memakai kuda-kuda pada konstruksi atapnya) dan ragam hias campuran dengan arsitektur Eropa. Bahkan pada pertengahan abad 20 sampai akhir abad ke 20 corak arsitektur Tionghoanya sudah hilang sama sekali .
Pada akhir abad ke 20 corak arsitektur ruko sudah berkembang lebih pesat lagi. Meskipun bentuk dasarnya pada 1 unit ruko masih belum banyak mengalami perubahan, tapi tampak luarnya merupakan pencerminan arsitektur pasca modern yang sedang melanda dunia arsitektur di Indonesia dewasa ini, tidak ada sedikitpun corak arsitektur Tionghoanya yang tertinggal.



 
 

















Gb 15.Pemandangan daerah Pecinan (Jl. Karet & Bibis Surabaya dulu ber­nama Chineese Voorstraat)
pada saat hari Minggu sore. Kelihatan daerah tersebut mati karena tempat tinggalnya dilantai 2, sudah tidak berfungsi lagi, karena sudah di­tinggalkan oleh para penghuninya. Jadi daerah ini baru ramai saat hari kerja saja.

Gb 16. Pemandangan daerah Pecinan (Jl. Panggung di Surabaya) pada saat jam kerja. Terlihat padatnya kesibukan lalu lintas yang melewati jalan yang sempit, serta ruko 2 lantai, yang khas daerah Pecinan.
Dengan makin kaburnya daerah Pecinan sekarang, maka bangunan ruko pada akhir abad ke 20 ini banyak yang terletak di daerah zoning perdagangan dalam tata ruang kota (keluar dari daerah Pecinan tradisional). Fasilitas bangunan­nya pun sudah di sesuaikan dengan jaman sekarang, seperti adanya parkir mobil, dan fasilitas umum lainnya. Arsitektur ruko yang pada awalnya berkembang di daerah Pecinan sekarang berkembang subur di berbagai kota di Jawa dengan mengikuti perkembangan jaman.
Dunia perdagangan selalu sarat dengan perubahan dan penyesuaian jaman. Hal ini juga tercermin dalam masyarakat Tionghoa di Jawa. Ujud phisiknya  bisa tercermin pada banguan ruko. Ada hal-hal yang harus tetap dipertahankan dan ada hal-hal yang berubah. Fungsi dan efisiensi  masih tetap tidak berubah. Hal ini tercermin dengan adanya denah-denah per 1 unit ruko, bahkan sekarang lebih di efisienkan dengan menambah tingkat pada 1 unit ruko menjadi 3 atau 4 lantai. Tapi tampak atau penampilannya selalu di sesuaikan dengan keadaan  jaman. Misalnya pada jaman kolonial Belanda, banyak sekali unsur-unsur atau elemen arsitektur dari Eropa, seperti kolom-kolom gaya Yunani atau detail-detail jendela serta lainnya coba untuk diterapkan dalam arsitektur ruko. Sekarang gaya-gaya post- modern banyak dipakai untuk penampilan luar ruko. Tapi bentuk dasar denah ruko masih tetap saja dari dulu sampai sekarang. Arsitektur adalah cermin dari budaya. Apakah semuanya ini juga berlaku bagi arsitektur ruko ? Suatu hal yang rupanya perlu di kaji dengan lebih teliti.  

Karakteristik Rumah-Rumah Etnis Tionghoa pada akhir abad ke 19.

            Rumah tinggal merupakan ekspresi langsung dari perubahan nilai, images dan persepsi “way of life”. Sebagai contoh perkembangan arsitektur Tionghoa akhir abad ke 19 disini akan dibandingkan antara lingkungan dan rumah orang China di daerah Pecinan Lasem dan Pasuruan.
            Lasem kota tua yang terkenal karena banyaknya orang Tionghoa disana, mempunyai lingkungan perumahan yang khas. Sejarah masa lalunya sebagai salah satu pusat penampungan dan perlawanan terhadap pemerintah Belanda pada akhir peristiwa pembunuhan orang Tionghoa secara besar-besar di Batavia th.1740 an, membuat lingkungan perumahannya menjadi sangat tertutup. Disamping itu kota Lasem juga sangat tertinggal (pada akhir abad ke 19) dalam hal perkembangan ekonomi dibanding dengan kota-kota pesisir lainnya di pantai Utara Jawa seperti Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dsb.nya. Akibatnya rumah-rumah orang Tionghoa di Lasem juga hampir tidak mengalami perubahan dalam perancangannya. 










Sumber Gb: LMF Purwanto
Gb.17. Denah sebuah rumah tinggal
di Lasem
 

Sumber Gb.: LMF Purwanto.
Gb.18 Potongan memanjnag rumah di daerah Dasun, Lasem.

 



Sumber foto: LMF Purwanto.
Gb.19. Suasana lingkungan perumahan orang China yang tertutup
di Lasem.
 

 






























            Berbeda dengan Lasem, kota Pasuruan pada akhir abad ke 19 justru mengalami masa keemasan, akibat hasil gula dari daerah hinterland nya. Opsir-opsir Tionghoa dan sebagian pedagang yang menikmati hasil penjualan tebu, menjadi sangat kaya, sehingga menimbulkan golongan elite lokal, yang mampu membangun rumah-rumahnya dengan gaya yang berbeda dengan rumah kuno di daerah Pecinan, warisan leluhurnya. Rumah baru dibangun dengan gaya arsitektur ”Indische Empire[10]” yang sedang popoler waktu itu. Tapi mereka masih mempertahankan cara hidup dengan kepercayaan confusianisme yang kuat. Hubungan dengan pejabat-pejabat Pribumi selama masa Cultuurstelsel (1830-1870) dan sesudahnya membuat orang-orang Tionghoa Pasuruan juga terpengaruh oleh kebudayaan setempat. Sebagai akibatnya arsitektur orang Tionghoa di daerah Pasuruan mempunyai bentuk yang unik. Yaitu sebagai percampuran arsitektur Belanda (Indische Empire) dan interior yang masih berbau China (ruang sembahyang, dsb.nya) serta barang-barang kesenian Pribumi  seperti gamelan, wayang, keris, tombak pusaka, dsb.nya.








Gb.20. Tipikal Denah bangunan arsitektur Cina akhir abad 19  di Pasuruan, Seperti yang ada di Jl. Raya.no..41, maupun di Jl. Hasanudin no.7,9 dan 13. Dengah rumah induknya yang simetri dengan teras depan dan belakang yang luas, serta tampak depan dengan tiga buah pintu, merupakan ciri-ciri khas bentuk arsitktur etnis China di Pasuruan waktu itu.

 

Gb.21. Rumah tinggal kel. Kwee di Jl. Hasanudin, Pasuruan.Rumah ini juga bergaya arssitektur Indische Empire. Hanya kolom-kolomnya sudah tidak memakai bahan bata lagi, tapi diganti dengan besi ulir yang mulai populer pada akhir abad ke 19. Hampir semua bahan bangunan, terutama yang dipergunakan untuk finishing nya didatangkan dari luar negeri.. Hubungan dengan luar negeri cukup udah bagi kota Pasuruan pada abad ke 19, karena pelabuahnnya digunakan untuk eksport hasil perkebunan selama jaman Cultuurstelsel (1830-1870), sampai akhir abad ke 19.

 




Gb.22. Bekas rumah kel. Han, di Jl. Hasanudin, Pasuruan. Kel. Han adalah salah satu keluarga China yang terkemuka di Jatim. Denah dan tampak depan  rumah dengan pilar gaya Yunani  dan teras depan maupun belakang yang luas tersebut jelas mengacu pada bentuk arsitektur  Indische Empire” yang populer pada abad ke 19.
 



Gb.23. Seperangkat Gamelan yang terdapat
pada rumah orang China di Pasuruan, sebagai
bagian dari “life style” nya.
 

 













































Gb.24. Ruang tengah rumah orang China di Pasuruan yang memakai gaya Arsitektur “Indische Empire”, tapi masih menganut confusianisme.
 

Gb.25. Teras belakang rumah orang China di Pasuruan yang dibangun pada akhir ke 19.  Percamapuran antara arsitektur Barat, China dan Jawa, merupakan pencerminan dari orang-orang China Pasuruan. Abad ke 19.
 

 
















Arsitektur Modern Etnis Tionghoa Abad ke 20.

Kalau berbicara tentang perkembangan arsitektur Tionghoa modern pada th. 1930 an, maka tidak bisa lepas dari seorang tokoh arsitek yang terkenal yaitu Liem Bwan Tjie.  Liem Bwan Tjie (LBT), adalah seorang arsitek modern pertama yang berpendidikan Belanda dari kalangan etnis Tionghoa-Indonesia[11]. Namanya barangkali kurang dikenal di kalangan dunia pembangunan di Indonesia, bahkan oleh orang Tionghoa-Indonesia sendiri [12]. Bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia sebelum perang dunia ke 2, profesi arsitek memang kurang populer[13].
Dalam perkembangan arsitektur modern etnis Tionghoa di Indonesia tentunya sesudah th. 1930 an rumah-rumah yang dibangun sudah tidak terletak di daerah pecinan lagi. Undang-undang wijkenstelsel sudah dihapus pada th. 1920 an.Tahun 1930 an, merupakan jaman depresi di perkotaan Jawa[14]. Tapi masa depresi pada perkotaan di Jawa tersebut tidak begitu mengganggu awal karier Liem, di Semarang. Hal ini disebabkan karena sebagian besar klien Liem pada awal kariernya adalah orang-orang Tionghoa kaya[15]. Mereka ini pada masa depresi justru ingin menikmati harta kekayaannya yang telah dikumpulkan jauh hari sebelum depresi untuk membangun rumah dan villa (terutama di daerah Tjandi). Dari daftar awal karya Liem, terlihat rumah mewah dari orang Tionghoa kaya hasil karyanya, seperti rumah tinggal Sih Tiauw Hien, Semarang (1930), villa Oei Tjong Houw, Kopeng (1931), rumah tinggal Tan Tjong Ie, Semarang (1931), rumah tinggal Ir. Be Kian Tjong, Semarang (1931), rumah tinggal Dr. Ir. Han Tiauw Tjong, Semarang (1932) dsb.nya (lihat daftar karya Liem pada akhir tulisan ini). Dari data diatas jelas bahwa ada hubungan erat antara Liem sebagai arsitek Tionghoa pertama lulusan Belanda, dengan masyarakat Tionghoa ‘cabang atas’ di Semarang.
            Bentuk rumah tinggal yang dirancang oleh Liem Bwan Tjie bagi orang-orang Tionghoa di Semarang dan beberapa kota besar di Jawa pada th. 1930 an, merupakan bentuk arsitektur modern, sesuai dengan ilmu yang ditimbanya selama bertahun-tahun di Eropa.






Sumber: NAi
Gb.27. Bagian depan rumah Han Tiauw Tjong di daerah Candi Semarang, yang dirancang oleh Liem Bwan Tjie pada tahun 1932.
 

Sumber: NAi
Gb.26. Rumah milik Dr.Ir. Han Tiauw Tjong, Semarang.
Dirancang oleh arsitek Liem Bwan Tjie tahun 1932.
Rumah tersebut bergaya arsitektur  modern.

 

 

















Keberhasilan arsitektur  modern yang dibawa oleh arsitek Belanda  pada awal abad ke 20, adalah penyesuaiannya yang baik dengan iklim tropis lembab yang ada di Hindia Belanda. Di dalam praktek pembangunan penyesuaian dengan iklim setempat itu dinyatakan dalam detail-detail elemen bangunan seperti overstek yang cukup lebar untuk melindungi bangunan dari sinar matahari yang masuk setelah pukul 9.00 pagi sampai pukul 4.00 sore, serta untuk melindungi tampiasnya air hujan yang masuk melalui pembukaan jendela.  Bentuk massa dan pembukaan bangunan yang mengarah ke Utara-Selatan untuk menghindari arah sinar matahari langsung. Pembukaan yang cukup dengan lubang-lubang angin diatas pintu, jendela maupun atap supaya terjadi cross ventilasi yang baik dsb.nya adalah perwujudan dalam praktek-praktek bangunan di lapangan. Sebagai arsitek kelahiran Semarang , Liem sangat menyadari akan hal-hal tersebut.
            Salah satu kliennya yang terbesar adalah perusahaan konglomerat Oei Tiong Ham concern yang berpusat di Semarang. Kantor pusatnya yang ada di Semarang dengan gaya arsitektur lama sebelum th. 1900 an, digantinya dengan perancangan arsitektur modern[16] pada th. 1931. Kemudian disusul dengan cabang-cabangnya yang ada di Surabaya dan Semarang. Dunia perdagangan dengan perubahan yang cepat dan dinamis, dirasa cocok untuk gaya arsitektur modern yang serba fungsional dan lugas itu.  
             Liem, seolah-olah menjadi pembaharu bagi masyarakat Tionghoa dalam dunia arsitektur di Semarang dan kota-kota besar di Indonesia pada jamannya. Tapi situasi seperti itu tidak berlangsung lama, karena tambah lama pemberi tugas (klien) Liem makin luas dan tidak terbatas pada masyarakat Tionghoa saja. Keadaan kota Semarang yang kurang dirasa kurang aman dengan kabar masuknya Jepang ke Hindia Belanda pada saat itu itu, serta tuntutan pekerjaan yang semakin lama semakin banyak, membuat Liem memutuskan untuk mulai mengembangkan kariernya ke Batavia pada th. 1938.
Sebagai arsitek yang berpendidikan Barat Liem mencoba untuk menggali sesuatu yang baru sesuai dengan aliran arsitektur modern yang dipelajarinya [17]. Masayarakat etnis Tionghoa yang sudah mengalami modernisasi pada th. 1930 an, serta klien-klien nya yang kebanyakan berasal dari orang Tionghoa pendidikan modern, banyak membantu ide-idenya dalam merancang rumah-rumah etnis Tionghoa modern pada jamannya. Jadi pada hakekatnya Liem dapat dikatakan sebagai pembaharu dalam desain rumah etnis Tionghoa, terutama yang menerima pendidikan Barat pada tahun 1930 an. Desain-desain rumah tinggal etnis Tionghoa yang dibuat oleh Liem makin lama makin menunjukkan citra arsitektur modern dan meninggalkan bentuk-bentuk masa lalu seperti arsitektur yang sering kita lihat di daerah Pecinan lama.








Sumber: NAi



Gb.28. Villa milik Oei Tjong Hauw (anak konglomerat Oei Tiong Ham) di Kopeng dirancang oleh arsitek Liem Bwan Tjie pada th. 1931. Sudut atap bangunan yang sangat lancip mengingat kan kita pada rumah-rumah di Eropa, supaya beban salju cepat turun ketanah dan tidak membebani atap.

 

Gb.29. Rumah peristirahatan milik Kwik Tjien Gwan
di Tawangmangu, dirancang oleh
Liem Bwan Tjie pada th. 1934.

 



Sumber: NAi
Gb30. Rumah tinggal The Bo Djwan, Malang.  Dirancang oleh Liem Bwan Tjie pada tahun 1934.
 

 



























Setelah Era Liem Bwan Tjie memang terdapat banyak arsitek-arsitek Indonesia yang berasal dari etnis China seperti Han Awal, Harry Kwee, Bianpun dsb.nya Bahkan generasi yang lebih muda seperti Tan Tjiang Ay, Sarjono Sani, Gunawan Tjahjono dsbnya. Tapi mereka ini menerima pendidikan Barat sepenuhnya seperti halnya Liem Bwan Tjie. Dengan situasi seperti pada masa orde baru, tidak dimungkinnya adanya arsitektur yang khas etnis China di Indonesia. Bahkan timbul pertanyaan di jaman sekarang, masih perlukah adanya arsitektur yang menunjukan ke khasan etnis China?

Kepustakaan

Akihary, Huib  (1990), Architectuur en Stedebouw in Indonesië 1870-1970, De Walburg Pers ,Zutphen.
Al Qurtuby, Sumanto (2003), Arus Cina-Islam-Jawa, Inspeal Ahimsakarya Press, Jogjakarta.
Benevolo, Leonardo (1982), History Of Modern Architecture, The MIT Press, Cambridge, Massachusetts.
Blussé, Leonard (1987), Persekutuan Aneh, Pemukiman Cina, Wanita dan Belanda di Batavia VOC, Pustaka Azet, Jakarta. Terutama Bab V. Batavia 1619-1740, Timbul Dan Tenggelamnya Sebuah Kota Koloni Cina, hal.111-146.
Dikken, Judy Den, Roding, J.G., Boersma, T. & Segaar, D. (2002), Liem Bwan Tjie (1891-1966) Westerse vernieuwing en oosterse traditie, Bibliografieen en oeuvrelijsten van Nederland
Graaf & Pigeaud (1985), Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram, Grafitipers, Jakarta.
Graaf, H.J. de (2004), Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, terjemahan dari Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th centuries: The Malay Annals of Semarang and Cirebon, PT Tiara Wacana, Yogya.
Handinoto (1990) Sekilas Tentang Arsitektur Cina Pada Akhir Abad Ke  XIX di Pasuruan , dalam Jurnal Dimensi   Arsitektur  Vol. 15/1990.
Handinoto (1999), Lingkungan “Pecinan” Dalam Tata Ruang Kota Di Jawa Pada Masa Kolonial, dalam Jurnal Dimensi  Arsitektur no.27/Juli 1999.
Handinoto (2004) Liem Bwan Tjie Arsitek Modern Generasi Pertama Di Indonesia (1891-1966), dalam Jurnal Dimensi  Arsitektur vol.32,No.2,Desember 2004.
Handinoto & Samuel Hartono (2007) Pengaruh  Pertukangan Cina  Pada Bangunan Mesjid Kuno Di Jawa Abad 15-16, dalam Jurnal Dimensi  Arsitektur vol.35,No.1,Juli 2007.
Khol, David G. (1984), Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses, Heineman Asia, Kuala Lumpur.
Kusno, Abidin (2000), Behind The Postcolonial Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia, Routledge, London.
Liang Ssu Cheng (1984), A Pictorial History of Chinese Architecture, MIT Press.
Lombard, Denys (1996), Nusa Jawa: Silang Budaya, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Terutama Bagian ke -2 Jaringan Asia.
Ong Hok Ham (1980), The Peranakan Officer’s Famillies in Nineteenth Century Java, dalam buku Papers of The Ducth-Indonesian Historical Conference, Leiden/ Jakarta, 1982, hal. 278-291.
Suryadinata, Leo (1988), Kebudayaan Minoritas Tionghoa di Indonesia, PT Gramedia, Jakarta.
Suryadinata, Leo (2002), Negara Dan Etnis Tionghoa, LP3ES,  Jakarta.
Suryadinata, Leo (2005) Pemikiran Politik Etnis Tionghoa Indonesia 1900-2002, LP3ES, Jakarta.
Viaro, Alain (1992), Is The Chinese Shophouse Chinese? (Draft English translation from ”Le compartiment Chinois est-il Chinois?, publ.in: Les Cahiers de la Recherche Architecturale “Arcitectures et cultures”, 27-28/1992, Ed. Parentheses, Marseille:139-150)
Widodo, Johannes (1996), The Urban History of The Southeast Asian Coastal Cities. Ph.D. Dissertation, University Of Tokyo.
Widodo, Johannes (2004), The Boat And The City. Chinese Diaspora and The Architecture of Southeast Asian Coast Cities, Marsall Cavendish Academic, Singapore.



[1] History of Java, 1:62, berdasarkan cacah jiwa oleh pemerintah Inggris th. 1815.
[2] Masyarakat Tiomhoa pada dasarnya merupakan minoritas yang tidak homogen . Tentang istilah peranakan, Suryadinata, Leo (2002:17), memberikan penjelasan secara umum sbb: Masyarakat Tionghoa di Indonesia bukan merupakan minoritas homogen. Dari sudut kebudayaan, orang Tionghoa terbagi atas ‘peranakan’ dan ‘totok’. Peranakan adalah orang Tionghoa yang sudah lama tinggal di Indonesia dan umumnya sudah berbaur. Mereka berbahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan bertingkah laku seperti Pribumi. Totok adalah pendatang baru, umumnya baru satu sampai dua generasi dan masih berbahasa Tionghoa.
[3] Pada jaman kolonial Belanda, masyarakat di Jawa dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan Ras. Kelompok pertama adalah orang Eropa (yang didominasi oleh orang Belanda). Kelompok kedua adalah Pribumi. Dan ketiga adalah kelompok Timur Asing (Vreemde Oosterlingen), yang terdiri dari orang-orang Tionghoa, Arab dan India yang lahir atau tinggal di Hindia Belanda selama 10 tahun.  Untuk mempertegas pemisahan ini pada th. 1835, diadakan undang-undang yang disebut sebagai ‘wijkenstelsel’ di P. Jawa.  Peraturannya berbunyi: Orang Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang menjadi penduduk Hindia Belanda, sedapat mungkin dikumpulkan di daerah-daerah terpisah dibawah pimpinan kepala mereka masing-masing. Meskipun peraturan ini dihapuskan pada th. 1920, tapi berdampak pada jangka panjang, terutama keterpisahan (separateness) orang Tionghoa dari Pribumi (Lea E. William, Overseas Chineses Nationalism: The Genesis of The Pan-Chinese Movements in Indonesia 1900-1916, Glencoe, Illinois Free Press, 1960, hal. 31)
[4] Timbulnya nasionalisme China pada awal abad ke 20 di Jawa dinyatakan dalam pembentukan perhimpunan China Raya (Pan China), seperti Tiong Hoa Hwee Koan (THHK- Perhimpunan Tionghoa) th.1900, yang mendirikan sekolah-sekolah yang berbahasa pengantar China (Tiong Hoa Hak Tong) di seluruh Jawa. Kemudian disusul dengan timbulnya surat kabar Tionghoa peranakan dalam bahasa Melayu Tionghoa (Li Po -th. 1901 di Sukabumi, Pewarta Surabaya – th. 1902 di Surabaya, Perniagaan-th 1903 di Batavia, Djawa Tengah – th.1909 di Semarang). Juga pembentukan Kamar Dagang Tionghoa (Siang Hwee)- th.1907 dan 1908 di berbagai kota di Jawa (Sumber lain J. Paulus,(ed), ENI eerste  deel, tweede druk (s’Gravenhage, 1917), mengatakan Siang Hwee yang pertama di Hindia berdiri tahun 1901) . Semuanya ini berpuncak pada diselenggarakannya Konperensi Semarang, untuk pertama kalinya oleh orang Tionghoa di Jawa pada th. 1917. 
[5] Istilah Kapitein ( Kapitan-Indonesia), berasal dari bahasa Spanyol untuk “Kapten”, tapi dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan urusan militer. Kapten adalah sebuah gelar yang diberikan kepada kepala kelompok ras (dalam hal ini kelompok Tionghoa). Seorang Kapten diberikan kekuasaan oleh pemerintah kolonial untuk mengatur urusan kelompok ras tersebut yang berkenaan dengan agama dan adat istiadat. Ia juga diharapkan untuk menyelesaikan pertikaian diantara kelompok rasnya sehubungan dengan hukum adat ( Suryadinata,2002:74)
[6] Ada awal abad ke 20, banyak kritik pedas dilontarkan pada dewan seperti ini , terutama oleh orang-orang Tionghoa kebanyakan yang tidak mendapat hak-hak istimewa seperti opsir-opsir Tionghoa dari “cabang atas”. Mereka ini secara terang-terangan menentang oligarki ini. Golongan yang diuntungkan memperoleh pendapatan yang berlimpah akibat wewenang yang mereka mereka nikmati. Beberapa novel Melayu Tionghoa yang ditulis dimasa itu banyak melukiskan tentang sikap yang arogan serta menuding korupsi yang dilakukan oleh opsir dan pejabat Tionghoa yang diangkat oleh Belanda tersebut. Ada kecenderungan orang-orang Tionghoa kebanyakan setelah kemerdekaan kurang senang akan orang-orang Tionghoa yang dianggap bersekongkol dengan Belanda.
[7] Kapten The Goan Tjing (Zheng Shaoyang) tercatat sebagai donatur dan pendiri kelenteng Hok An Kiong (Fuan Gong) di Surabaya th. 1832.
[8]  Mengenai riwayat keluarga Han yang terkenal di Jawa Timur, baca:Claudine Salmon (1994) “The Han Family Of East Java: Entrepreneurship and Politic (18th-19th Centuries) di majalah Archipel 41, hal.53-87.
[9] Tianhou atau Ma Zu atau Mak Co (Hokkian), juga dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu ( Mandarin) atau Thian Siang Sing Bo adalah dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian (Hokkian). Banyak kelenteng Tianhou menyebar sepanjang kota-kota pantai di Asia Tenggara. Hal ini menandakan route perjalanan orang-orang asal propisi Fujian yang mengembara ke laut Selatan atau Nanyang. Tentang riwayat Thian Siang Sing Bo lihat http://www.kelenteng.com/dewadewi/tianshangshengmu.shtml

[10] Arsitektur “Indische Empire” adalah gaya arsitektur yang berkembang pada abad ke 19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Jendral “H.W. Daendels (1808-1811). Ciri-ciri khas dari arsitektur tersebut bisa ditengarai sbb: Denahnya berbentuk simetri penuh. Ditengah terdapat apa yang disebut sebagai “Central Room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. “Central Room” tersebut berhubungan langsung dengan teras depan dan teras belakang (Voor Galerij dan Achter Galerij).  Teras tersebut biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani atau Romawi (Doric, Ionic ,Corinthian). Dapur, Kamar Mandi/WC, Gudang dan daerah Service lainnya merupakan bagian yang terpisah dari bangunan utama dan letaknya ada dibagian belakang. Kadang-kadang disamping bangunan utama terdapat paviliun yang digunakan sebagai kamar tidur tamu. Kalau rumah tersebut berskala besar biasanya terletak pada sebidang tanah yang luas dengan kebun didepan samping dan belakang. Gaya arsitektur “Indische Empire” ini mulai menghilang pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda.

[11] Tentang riwayat yang lebih rinci dari Liem Bwan Tjie lihat: Handinoto (2004) Liem Bwan Tjie Arsitek Modern Generasi Pertama Di Indonesia (1891-1966), dalam Jurnal Dimensi  Arsitektur vol.32, No.2, Desember 2004.
[12] Namanya bahkan tidak tercantum dalam buku : Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , Drs Sam Setyautama (2008),  terbitan Kepustakaan Populer Gramedia., yang dianggap sebagai salah satu buku yang terlengkap tentang tokoh-tokoh Tionghoa di Indonesia.
[13] Liem Bwan Tjie , adalah arsitek pertama dan satu-satunya dari golongan Tionghoa di Hindia Belanda sebelum perang dunia ke 2. Selama periode Kolonial di Hindia Belanda hanya ada 40 orang insinyur Tionghoa. Lihat F.J.E. Tan, “Tjendekiawan Keturunan Tionghoa di Indonesia Dewasa Ini”, Star Weekly, 578 (26 Januari, 1957), hal. 56.
[14] Masa depresi th. 1930 an telah mengacaukan penghasilan eksport hasil panen di Hindia Belanda, mengakibatkan efek mendalam terhadap ekonomi kolonial yang selama ini tergantung pada eksport hasil pertanian. Bagi banyak orang diperkotaan di Jawa , masa depresi adalah masa yang sulit. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan menerima pekerjaan dengan gaji yang lebih kecil. Bahkan banyak diantaranya terpaksa bekerja dengan upah harian. Gambaran yang lebih jelas selama masa depresi tahun 1930 an, bisa dilihat pada tulisan John Ingleson (1988), ‘Urban Java during the depression’ dalam Journal of Southeast Asian Studies, Vol.XIX, No.2, September 1988.
[15] Semasa mahasiswa di Belanda Liem adalah anggota dan pengurus dari perkumpulan China peranakan yang belajar di Belanda yang dinamakan Chung Hwa Hui (untuk membedakan dengan perkumpulan serupa yang didirikan di Jawa, perkumpulan yang didirikan di Belanda itu kemudian disebut sebagai Chung Hwa Hui Nederland). Liem, juga aktif dalam perkumpulan Chung Hwa Hui (CHH) di Jawa, yang kongres pertamanya diadakan di Semarang pada tgl. 19-20 April 1927. Anggota dari Chung Hua Hui ini khususnya adalah bekas anggota CHH Nederland dan para pengusaha Tionghoa peranakan. Anggota terkemuka dari Chung Hwa Hui antara lain adalah dr. Yap Hong Tjoen (dokter spesialis mata terkenal di Yogyakarta), Dr.Ir. Han Tiauw Tjong, Be Tiat Tjong, Oei Tjong Hauw (putera konglomerat Oei Tiong Ham), Tan Tek Peng (salah seorang direksi perusahaan Oei Tiong Ham Concern) dsb.nya. Tidak heran kalau Liem selain banyak merancang rumah tinggal orang Tionghoa ‘cabang atas’ tersebut, juga merancang kantor pusat serta cabang-cabang dari perusahaan konglomerat Oei Tiong Ham Concern, yang pada th. 1930 an sudah dipegang oleh anak-anaknya seperti Oei Tjong Hauw dsb.nya.
[16] Karakter ‘arsitektur modern’ dapat ditengarai sbb (Webster Dictionary):
-          attempt to express function, material and technology in an honest way
-          works to provide functional building to all people with an economy of means
-          employs arts as means of ordering form
-          reject  historical precedent
-          explicity attempts to express all the above in its building manifestations.
[17] Liem masuk TU. Delft pada tahun 1920. Selama tinggal di Delft ia banyak mempelajari kebudayaan Barat, mulai dari literatur sampai kepada musiknya. Tapi disamping itu kesadarannya sebagai seorang keturunan Tionghoa membawanya memasuki perkumpulan mahasiswa Chung Hua Hui (perkumpulan mahasiswa peranakan Tionghoa asal Nusantara di Belanda). Bahkan ia pernah menjadi pengurus pada perkumpulan mahasiswa ini. Keanggotaanya sebagai pengurus Chung Hua Hui, membawanya untuk pergi ke Paris pada th 1924. Disana bersama dengan beberapa temannya ia pergi meninggalkan Belanda menuju kekota ‘dunia’ yaitu Paris. Suasana artistik sebagai pengaruh dari ‘Ecole Des Beaux Art’   serta iklim intelektual yang dikembangkan oleh orang-orang perantauan dari berbagai negara dengan diskusi-diskusi tentang kebangsaan di café-café sepanjang jalan kota Paris membuat Liem cukup lama tinggal di sana  (th. 1924-1926). Diskusi-diskusi intelektual bersama teman-teman mahasiswa dari berbagai bangsa selama di Paris, ikut membentuk kepribadiannya kelak sebagai seorang arsitek aliran modern di Indonesia.

2 komentar:

  1. bacaannya sangat menarik....

    BalasHapus
  2. dalam tulisan kenapa tidak muncul gambar-gambarnya ya !

    BalasHapus