Rabu, 01 Juni 2011

PENGETAHUAN KETOPRAK


PENGETAHUAN KETOPRAK

A.     PENGERTIAN
Ketoprak adalah :   
Teater rakyat  yang lahir di Jawa ( Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta), menyajikan dialog, tarian, nyanyian dan lawakan dengan tanda pembabakan menggunakan pukulan keprak (kentongan) dan membawakan cerita rakyat (legenda, dongeng, sejarah, babad, fiktif) baik dari dalam maupun luar negeri.

B.     SEJARAH KETOPRAK / PERIODISASI KETOPRAK
a.       Ketoprak Lesung (1887 – 1925)
Bentuk awal dari kesenian ketoprak hanya berupa permainan hiburan santai di waktu senggang dikalangan rakyat pedesaan.
penggambaran awal dari ketoprak lesung, kurang lebih sebagai berikut :
Lesung besar (alat untuk menumbuk padi) telah tersedia disamping kanan atau kiri rumah petani, namun terkadang tersedia juga lesung lebih kecil.
Seorang atau dua orang penduduk desa mengawali memukul lesung tersebut dengan irama gejog yang umum dimainkan orang pedesaan. Suara gejog tersebut cukup menarik minat para tetangga untuk menggabung dalam permainan tersebut. Permainan santai ini diikuti oleh para remaja desa, baik laki – laki maupun perempuan. Bunyi berirama yang keluar dari lesung memancing peserta yang tidak mendapat bagian memukul lesung untuk menari – nari mengikuti irama tersebut. Gerak – gerak sederhana dengan cara improvisasi muncul dengan bebas menurut gayanya sendiri – sendiri.
Tradisi permainan gejog lesung memang telah lama ada dikalangan rakyat petani jawa, namun kapan dan dimana pertama kali muncul tidak diketahui.
Pada awal kehadirannya, taraf permainan tersebut masih belum berupa pertunjukan dalam arti sebenarnya. Ikatan antara pemain dan penonton masih erat dan kesempatan berpartisipasi terbuka lebar.
Sinar bulan merupakan alat penerangan pementasan. Suara pukulan lesung yang berirama gejog juga terdengar apabila gerhana bulan.
Permainan gejog lesung yang merupakan bibit pertunjukan ketoprak ini banyak dilakukan didesa – desa di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta, Klaten (Jawa Tengah) dan daerah pertanian lainnya.
Sifat kesantaian permainan gejog lesung tidak mengharuskan orang memakai pakaian khusus (tata busana yang khusus).
Permainan yang pada awalnya hanya berisi bunyi – bunyian, tari-tarian, nyanyi-nyanyian lama kelamaan menjemukan dan monoton. Diantara penonton yang mempunyai jiwa seni menambahkan beberapa adegan berupa lawakan untuk menyegarkan suasana.
Cerita pada Ketoprak Lesung masih eputar pertanian (masalah hama, Dewi Sri, dll)
Alat iringan selain lesung, antara lain : kendang, seruling dan terbang

b.      Ketoprak Peralihan (1925 – 1927)
Pertunjukan ketoprak lesung mendapatkan sambutan baik dari masyarakat. Sifat humor dan penyajian yang sederhana dari pertunjukan tersebut sesuai dengan keadaan masyarakat disana, yaitu masih bersifat pedesaan.
Lama – kelamaan, penyempurnaan dan penambahan mulai dilakukan. Baik menyangkut alat iringan, cerita, tarian maupun pakaian. Alat iringan yang hanya terdiri dari lesung, kendang, seruling dan terbang sudah tidak memuaskan lagi. Maka ditambah dengan beberapa gamelan, seperti : saron, kempul, gong dan lainnya. Ada juga perkumpulan ketoprak lainnya menambahkan peralatan seperti : biola dan mandolin.
Cerita ketoprak mulai diperluas, baik diambil dari cerita rakyat, babad, panji, maupun cerita dari luar negeri (Johar Manik, Sam Pek Eng Tay, dll)
Gerakan tari lebih teratur dan terkonsep.
Yang menarik pada Ketoprak Peralihan ini adalah cara memperkenalkan diri kepada penonton. Pada awalnya, ketika Aktor masuk, Aktor mennyanyi, lalu aktor memperkenalkan dirinya, namanya siapa dan pada malam itu dia memerankan apa.
Pada Ketoprak Peralihan, unsur tata busana mulai difikirkan.

c.       Ketoprak Gamelan (1927 - sekarang)
Pada tahun 1927, Rombongan Ki Wisangkara (Surakarta) mementaskan Aji Saka dengan menggunakan peralatan gamelan, di sebuah pendapa, kemungkinan awal dari pertunjukan tersebut menandai berawalnya Ketoprak Gamelan.
Dalam Ketoprak ini alat musiknya (secara keseluruhan) menggunakan gamelan.
Pada Ketoprak Gamelan, gerakan – gerakan seperti pencak silat, tarian, dan nyanyian sudah melewati tahap latihan. Meskipun menggunakan woss (naskah ketoprak) yang hanya sederhana dan menerangkan point pentingnya saja, para pemeran dapat meluangkan waktu (walau sebentar) untuk berkoordinasi dengan lawan mainnya, sehingga pada waktu pementasan mereka tidak akan mati diatas pentas.

C.     CIRI – CIRI KETOPRAK :
    1. Cerita
Biasanya sudah dikenal dalam masyarakat (legenda, dongeng, sejarah, babad, fiktif) baik dari dalam maupun luar negeri.
    1. Penyutradaraan
1.      Naskah Ketoprak yang dikenal dengan woss
2.      Naskah Ketoprak/woss berbeda dengan naskah lakon lainnya, dengan ciri – ciri :
-         Naskah Singkat
-         Naskah sederhana
-         Naskah lengkap tanpa dialog
3.      Dapukan (tokoh yang akan diperankan) / baik terancang maupun spontanitas. Dapukan disini bahasa lainnya adalah casting
4.      Penuangan cerita, dapat bersama – sama atau perorangan
5.      pengaturan bagian – bagian yang lain dilaksanakan secara terancang, maupun spontanitas.
6.      Pementasan dapat berjalan, meskipun dalang (sutradara) tidak mengendalikan
7.      Konsep penyutradaraan tidak meninggalkan unsur : sereng (kereng/serius), sengsem (terhanyut, terlena), lucu dan bobot (isi).
8.      Penyutradaraan dilakukan secara luwes
c.       Jenis Pakaian / Tata Busana
Tata Busana dapat dibedakan menjadi :
1.      Jenis Pakaian Kejawen
Jenis – jenis pakaian kejawen antara lain :

-   Celana panji
-   Baju Surjan
-   Kebaya
-   Blangkon
-   Iket lembaran / Udheng
-   Kemben
-   Kuluk/ mahkota
   (untuk upacara raja dan mentri-
mentrinya)    


2.      Jenis Pakaian Mesiran
-   Celana panjang gombyor
-   Kemeja panjang
-   Rompi
-   Jubah
-   Simbar, dibuat dari kain bludru yang dibordir (Ketoprak gaya Surakarta/Solo)
Jenis pakaian ini digunakan untuk cerita – cerita dari luar/ mesiran. Misalnya : dongeng dari cerita 1001 Malam, cerita Turki, dll
3.      Jenis Pakaian Basahan
Yang dimaksud dengan pakaian basahan adalah jenis gabungan antara pakaian kejawen dengan mesiran, yaitu bagian bawah menggunakan kain batik atas menggunakan jubah.
Pakaian ini digunakan untuk membawakan cerita khusus yang bernafaskan Islam. Misalnya : Cerita Menak ( Wong Ageng Jayeng Rono), Cerita Wali, dll
4.      Jenis Pakaian Gedhog
Jenis pakaian ini terpengaruh dengan pakaian wayang orang, hanya disana sini ada perubahan – perubahan.
Jenis pakaian Gedhog digunakan untuk membawakan cerita – cerita mulai jaman sebelum Majapahit. Cerita – cerita tersebut antara lain : Damarwulan, Cerita Panji, Pancapana Indrayana, Anglingdarmo, dll (Marsidah B.Sc)
Jenis pakaian ini mulai dikenal pada tahun 1958, pada waktu Ketoprak RRI Yogyakarta pimpinan Cokrojiyo mengadakan pementasan disebuah gedung pertunjukan. Dengan cerita Damarwulan.
Pakaian gedhog antara lain :
-         Tropong (dapat berbentuk seperti candi, wayang)
-         Jamang dan sumping
-         Kelat bahu
-         Binggel dan gelang
Cara menggunakan kostum dalam ketoprak
1.      Kostum sebaiknya ginakan sesuai/ mendekati dengan cerita yang akan dibawakan
2.      Disesuaikan dengan kedudukannya dalam peran (Raja, Patih, Tumenggung, Rakyat, kostumnya jelas berbeda)
3.      Wajar, tidak berlebih – lebihan, namun cukup untuk menimbulkan rasa keindahan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar