Selasa, 21 Juni 2011

Merajut Akar-Akar Kebangsaan


Oleh: Abdurrahman Wahid*
Judul diatas memberikan pengertian kepada kita bahwa kebangsaan kita bukanlah sesuatu yang bersifat bulat dan tetap. Kita lihat umpamanya, bahwa pada abad ke-6 masehi kerajaan Sriwijaya di Sumatra Selatan telah di datangi oleh Fahien, yang menyebarkan agama Budha di daerah Sriwijaya. Ketika kemudian Sriwijaya mengirimkan orang-orang Budha ke pulau Jawa pada abad ke-8 maka mereka mendarat di pelabuhan Pekalongan dan meneruskan perjalanan ke Selatan melalui Keras, Kajen dan sebagainya. Mereka mendaki gunung Dieng, dan mendapati kerajaan Kalingga yang beragama Hindu. Kerajaan Kalingga itu dibiarkan saja mengikuti agama Hindu, dikawasan yang sekarang bernama kabupaten Wonosobo. Orang-orang Budha itu melanjutkan perjalanan melalui Kabupaten Magelang, dan mendirikan Candi Borobudur yang beragama Budha. Sebagian dari orang-orang Sriwijaya itu melanjutkan perjalanan ke daerah Yogyakarta. Di sana mereka mendirikan kerajaan Kalingga, tapi beragama Budha.
Pada abad ke-9 masehi, di daerah Prambanan mereka mendirikan Candi Rara Jongrang, terkenal dengan sebutan Candi Prambanan. Candi tersebut sudah menjadi tempat beribadat cara Budha. Pada abad ke-10 masehi, orang-orang Budha di daerah Prambanan itu kemudian berpindah 500 kilometer jauhnya, yaitu ke daerah Kediri. Kerajaan yang mereka dirikan itu disana, memiliki rakyat yang beragama Hindu-Budha. Raja mereka yang sangat terkenal adalah Prabu Airlangga dari daerah Kediri/Daha itu dua abad kemudian mereka berpindah ke Singosari di Malang. Raja mereka yang terkenal adalah Ken Arok. Singosari bertahan hingga abad ke-13, terakhir dipimpin oleh Prabu Kertanegara. Pada abad ke-13, menantunya yang beragama Islam (santri) bernama Raden Wijaya, mendirikan kerajaan Majapahit disebelah utara, yaitu di pinggiran sungai Brantas mereka di dukung oleh angkatan laut Tiongkok, yang sudah beragama Islam. Namun tidak dapat dicegah adanya pertempuran antara kaum santri dan kaum Hindu-Budha (yang sering juga disebut kaum Bhairawa). Ketika kaum Hindu-Budha itu memerangi mereka, banyak orang santri yang mati terbunuh atau luka-luka berat di Troloyo, sekitar 2 kilometer sebelah selatan Trowulan pusat Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V dari Majapahit, disamping memiliki permaisuri yang beragama Hindu-Budha, juga memiliki istri selir berasal dari Kampuchia. Istri selir itu beragama Islam dan mempunyai anak darinya dua orang. Yang besar bernama Tan Eng Koat, adiknya adalah Tan A Lok. Tan A Lok ini kawin dengan Tan Kim Han, duta besar Tiongkok untuk Majapahit. Tan Eng Hoat, dalam pertempuran di Troloyo itu gugur, bersama-sama banyak pejuang lain. Kakak iparnya, yaitu Tan Eng Hoat kemudian dibawa lari ke daerah Demak sekarang setelah sembuh dari luka-luka beratnya ia mendirikan Kesultanan Demak, di mana ia menjadi Sultan pertama dan memakai nama Raden Patah. Dari kesultanan Demak inilah akan lahir seorang pemimpin yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyakra Kusuma. Ia menjadi raja pertama dinasti Mataram di Yogyakarta.
Dari apa yang diuraikan di atas, jelaslah bahwa faktor kawasan menjadi sangat panting dalam sejarah bangsa kita tidak ada kesatuan ideologis, melainkan begitu banyak pandangan-pandangan dan keyakinan-keyakinan berkembang, tidak pernah dicoba untuk menjadikannya panutan tunggal.
Pada tahun 1919 tiga orang bersaudara sepupu membuat acara tetap yang berusaha menyelaraskan ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Mereka adalah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, KH. M. Hasjim As’yari dan Pesantren Tebu Ireng kabupaten Jombang, yang sekitar 100 kilometer jauhnya dari kota Surabaya. Mereka dilengkapi dengan KH. A. Wahab Chasbullah dari Pondok Pesantren Tambak Beras, dari kabupaten yang sama. H.O.S Tjokroaminoto memiliki menantu bernama Soekarno yang kemudian hari lebih terkenal dengan sebutan Bung Karno. Tiga orang sepupu itu, dalam diskusi-diskusi itu membawakan ajaran-ajaran agama Islam. Sedangkan Soekarno, membawakan semangat kebangsaan. Diskusi tiap hari kamis itu berlanjut hingga tahun 1926, saat Nahdlatul Ulama berdiri secara tidak terasa, para kyai yang tergabung dalam NU terbiasa dengan dialog antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pembahasan-pembahasan itu pada akhirnya membuat NU yang senantisa berpegang kepada ajaran-ajaran agama Islam, tidak pernah melupakan semangat kebangsaan itu. Karena itu, tidak heran jika Muktamar NU ke-9 di Banjarmasin (tahun 1935) kemudian memutuskan orang-orang santri tidak wajib mendirikan negara Islam.
Kita melihat, bahwa antara ajaran Islam dan semangat kebangsaan tidak perlu dipertentangkan melainkan justru hidup berdampingan secara damai. Semoga untuk selanjutnya, semangat yang demikian itu dapat dikembangkan lebih jauh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar