Rabu, 01 Juni 2011

LASEM KOTA KUNO DI PANTAI UTARA JAWA YANG BERNUANSA CHINA.

LASEM
KOTA KUNO DI PANTAI UTARA JAWA YANG BERNUANSA CHINA.


Samuel Hartono
Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Surabaya
samhart@peter.petra.ac.id

Handinoto
Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Surabaya
handinot@peter.petra.ac.id


ABSTRAK

          Lasem adalah sebuah kota Kecamatan di pantai Utara Jawa. Kotanya terkenal sebagai kota kuno yang bernuansa China. Banyak sekali peninggalan bangunan yang bernuansa arsitektur China disana. Sekarang perkembangan kota Lasem seolah-olah mengalami suatu diskontinuitas dengan masa lalunya. Padahal pemahaman tentang sejarah kota sangat penting bagi perencana dan perancang kota. Karena kebanyakan teknik perencanaan kota tergantung pada ekstrapolasi dari kecenderungan masa lalu yang bersumber pada sejarah kotanya sendiri. Oleh sebab itu pengetahuan perkembangan kota dimasa lalu perlu dicermati sebagai bekal untuk perkembangan dimasa datang. Kota Lasem sekarang ini seolah-olah mengalami suatu disorientasi dalam perkembangannya. Dengan mengambil ‘kelenteng’ (rumah ibadah China) sebagai salah satu ‘tengaran’ (landmark), diharapkan bisa dipakai sebagai pemicu dalam menciptakan kembali sense of continuity bagi perkembangan kota nya. Tentu saja dalam alam reformasi ini kita harus menghilangkan prasangka dan mengedepankan pluralitas yang hidup dalam masyarakat  yang majemuk ini.

Kata Kunci: Perkembangan kota di Jawa, Kelenteng, Lasem


ABSTRACT

Lasem is a district town in the northern coastline of Java. It is well known as an ancient town with strong Chinese nuances. There are numbers of old buildings with Chinese architecture. Today’s development of Lasem seems to experience a discontinuity of its past. It’s a pity because knowledge of a town/city history is very important for urban planners as most techniques of urban planning depend on the extrapolation  of the tendencies in the past which emerged from the town itself. Therefore, knowledge of a town’s past development shoud be observed as the resources of future development. Present Lasem seems to experience a disorientation in its development. Taking the ‘klentengs’ (Chinese  temple) as the landmark, it is expected that they can be used as the trigger to recreate the sense of continuity for the current development of Lasem. Obviously, in this reformation era we should eliminate prejudice and put plurality forward in this diverse society.

Key Words: The growth of town in Java, Kelenteng (Chinese Temple),  Lasem.








 























PENDAHULUAN
          Lasem sering disebut oleh turis Perancis  sebagai “Petit Chinois”(China kecil), karena banyaknya peninggalan berupa kebudayaan seperti upacara-upacara perayaan keagamaan  serta arsitektur orang China-Indonesia yang ada disana.
Sekarang status Lasem adalah sebuah kota kecamatan di Jawa Tengah yang terletak dipesisir Utara Jawa[1]. Lokasinya sangat strategis karena ada ditengah-tengah jalan utama ( dulu disebut sebagai grotepostweg - Jalan Raya Pos) yang menghubungkan antara Surabaya (ibukota Jatim) dan Semarang (ibukota Jateng). Jumlah penduduk nya pada sensus th. 2000 tercatat sebanyak 24.065 orang. Data statistik pemeluk agama pada th. 2000 tercatat sbb: 21.244 adalah muslim, 1203 pemeluk agama Katholik Roma, 987 pemeluk agama Kristen Protestan dan 631 adalah pemeluk agama Hindu, Budha dan Confusius. Disamping beberapa mesjid, mushola dan langgar di Lasem terdapat sebuah Katedral, 6 gereja Protestan dan 3 kelenteng.
Kalau dilihat dari catatan jumlah penduduk serta komposisi pemeluk agama rasanya tidak ada sesuatu yang istimewa di kota kecamatan ini[2]. Kita baru bisa melihat perbedaan dengan kota-kota lain, pada saat perayaan hari raya China[3] berlangsung, suasana kota berubah total. Pada hari-hari seperti itu ribuan orang keluar ke jalan dan suasana kota hidup dengan gairah tinggi, lalu tampaklah dengan jelas, pengaruh kebudayaan China masih mendominasi kehidupan kota Lasem[4].  Maka disinilah peran ketiga kelenteng yang telah berumur ratusan tahun tersebut ikut mengambil bagian dalam perayaan ini. Pada peristiwa seperti ini kelenteng betul-betul berfungsi sebagai ‘tengaran’(landmark) bagi kota Lasem.
Kelenteng bukan hanya tempat kehidupan keagamaan berlangsung, melainkan pula ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu, suatu penyelidikan mengenai kelenteng dapat memberikan sumbangan sangat berharga untuk memahami sejarah sosial masyarakat yang bersangkutan (Salmon, 1985:85). Penyelidikan kelenteng-kelenteng dapat membantu memahami perkembangan masyarakat yang beranekaragam itu dalam rangka menjalani proses transformasinya (Salmon, 1985:97).
Tulisan ini tidak membahas tentang arsitektur kelenteng. Tapi lebih difokuskan pada dua hal. Pertama adalah kelenteng sebagai ‘tengaran’ (landmark) bagi kota Lasem. Kedua adalah pengaruh timbal balik antara perkembangan tata ruang kota Lasem dengan perletakan ketiga kelenteng tersebut.
  
DISKRIPSI SINGKAT TENTANG KETIGA KELENTENG DI LASEM.

Kelenteng Cu An Kiong Jl. Dasun, 19, Lasem.
          Kelenteng Cu An Kiong terletak di Jalan Dasun, di tepi sebelah Timur sungai Lasem yang mengalir ke Utara, kearah laut. Jalan Dasun termasuk jalan paling tua di kota Lasem (lihat gb.no.9.). Cu An Kiong atau “Temple of Mercy and Peace”, merupakan bangunan seluas kurang lebih 150 m2. Tidak jelas kapan kelenteng ini didirikan[5]. Pada prasasti  yang tertua di dalam kelenteng tersebut dijelaskan bahwa pada th. 1838, atas prakarsa dari Kapitan[6] Lin Changling diadakan perbaikan bangunan atas kelenteng tersebut (lihat gb.no.2.). Halaman depan kelenteng, cukup luas. Jalan masuk utama menuju halaman depan terdapat pintu gerbang yang indah. Pada balok pintu gerbang tersebut tertulis nama kelenteng dalam aksara China, sedang pada kedua kolomnya bertuliskan puji-pujian yang diperuntukkan bagi ‘Tianhou’ (dewi utama yang dipuja di kelenteng tersebut). Dua singa bergaya Barat berdiri sebelum pintu gerbang tersebut. Pintu gerbang ini didirikan atas prakarsa dari Kapitan Huang Xingguo (Oei Ek Thay – Hokkian [7]) pada th. 1922, kemudian diperbaiki lagi pada th. 1950 dan awal tahun 1960 an (lihat gb.no.3.).
         
Sumber Franke, 1997:465:
Gb.no.2. Inskripsi dari batu yang terdapat di kelenteng
 Cu An Kiong, yang didirikan oleh kapitan Lin Changling
untuk memperingati restorasi kelenteng tersebut pada
th. 1838. Pada batu peringatan tersebut tercantum nama
105 orang penyumbang. Jadi mestinya kelenteng Cu An
Kiong, sudah ada jauh sebelum th. 1838.
 




















Sumber: Franke, 1997:464

Gb.no.3. Tampak depan kelenteng Cu An Kiong yang terletak di Jl. Dasun no. 19, Lasem.
Kelenteng Cu An Kiong ini merupakan kelenteng yang tertua di Lasem.
 
 













Altar utama di kelenteng ini dipersembahkan kepada ‘Tianhou[8] atau ‘The Qeen of Heaven’, tapi disamping itu di juga dipuja gambar dan patung dari Confucius, ‘Jialan ye’ dan ‘Fude zhengshen’[9] yang terletak di altar samping. Pada ruang samping dari kelenteng ini terletak ’joli’ (kio – Hokkian), konon merupakan ‘joli’ yang terindah di Jawa. Pada pesta hari raya besar, patung ‘tianhou’ yang dinaikkan ‘joli’ sering diarak keliling kota Lasem atau dibawa ke kelenteng Poo An Kiong di Karangturi VII/15, untuk kemudian dikembalikan lagi ketempat semula.
          Yang tidak kalah menariknya adalah batu prasasti dan papan bertulis dalam bentuk melintang (bian-e) atau membujur (dui-lian), yang memenuhi ‘ruang dalam’ kelenteng tersebut (lihat gb.no.4.) Banyak informasi tentang sejarah dan pemuka masyarakat China pada masa lalu bisa ditelusuri dari tulisan yang terdapat disana. Maka tidak salah kalau dikatakan bahwa : “kelenteng bukan hanya tempat kehidupan keagamaan berlangsung, melainkan pula ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya” (Salmon, 1985:85).
          Didepan bangunan utama di kenteng Cu An Kiong terdapat sebuah gedung (rupanya baru) semacam aula yang digunakan untuk pertemuan dan kegiatan sosial lainnya.


Sumber:Franke, 1997:473
Gb.no.4. Salah satu papan melintang bertuliskan huruf
China, yang berisi pujian kepada ‘Tianhou’ yang terdapat di
kelenteng Cu An Kiong. Papan tersebut disumbang oleh Lu
Fulong, yang berangka tahun 1911.
 
 









Kelenteng Gie Yong Bio, Jl. Babagan No. 7, Lasem.

          Gie Yong Bio, sekarang terletak ditepi jalan Raya (dulu Grotepostweg). Kelenteng ini didirikan bersamaan dengan berkembangnya penduduk golongan China ke daerah Babagan yang terletak ditepi sebelah Selatan jalan Raya tersebut (lihat peta gb.no.9). Rumah ibadah ini juga sering disebut sebagai ‘Yiyong Gong Miao’ (Mandarin) atau “Temple of the valiant men”. Kapan kelenteng ini dibangun, tidak ada keterangan yang pasti. Sedikitnya ada tiga versi tentang alasan pendirian kelenteng tersebut. Yang pertama, pendirian kelenteng diperuntukan bagi dua orang pahlawan terkenal dari dinasti Ming (1368-1644), yaitu Chen (Tan) Sixian dan Huang (Oei) Daozhou, keduanya dipuja pada altar utama di dalam kelenteng tersebut. Pemujaan terhadap kedua pahlawan ini berasal dari kelenteng di kota Longxi, Kabupaten Zhangzhou, propinsi Fujian, pada th. 1746, dimana sebagian besar orang China Lasem berasal. Kemudian kelenteng itu dinamakan ‘Chen Huang ergongci’ atau “Temple of the Two Lords Chen and Huang”.
          Versi kedua mengatakan bahwa dua orang marga ‘Tan’  (Chen) dan ’Oei’ (Huang), yang gagah berani tersebut, merupakan dua orang China pertama yang mendarat di Lasem. Sesudah mereka meninggal, kemudian didewakan dan dipuja, tidak hanya di Lasem tapi juga di daerah sekitarnya seperti Rembang dan Juana. 
          Versi ketiga, yaitu versi yang paling populer dan dipercaya oleh masyarakat setempat ialah bahwa, dua orang ini (Oei Ing Kiat dan Tan Pan Jiang), merupakan pahlawan China yang meninggal dalam perang menentang VOC pada th. 1740 an. Penduduk lokal kemudian membangun kelenteng tersebut sebagai penghormatan atas kedua orang ini.
          Pada kelenteng tersebut juga dipuja dewa-dewa seperti ‘Fude zhengshen’ dan ‘Confusius’ di altar yang berbeda. Inskripsi yang tertua di kelenteng ini berangka tahuan 1829, yang dibuat untuk memperingati perbaikan sebuah altar.
          Aslinya kelenteng ini menghadap ke arah Timur. Tapi setelah jalan Daendels (jalan Raya) bertambah ramai maka orientasinya dihadapkan ke jalan raya, yaitu ke arah Utara. Perpindahan orientasi ini dilakukan bertepatan dengan perbaikan kelenteng tersebut yang dilakukan pada th. 1915. 


Sumber: Franke, 1997:475.

Gb.no.5. Tampak depan kelenteng Gie Yong Bio, jalan Babagan no.7, Lasem.
Kelenteng ini diperkirakan sebagai kelenteng ketiga yang tertua di Lasem. Gerbang yang asli
menghadap kearah Timur. Baru pada th. 1915, pintu masuknya dihadapkan kearah ke Utara yaitu
Jl. Raya (dulu Grotepostweg) Lasem.
 
 















Kelenteng Poo An Bio, Jl. Karangturi VII/13, Lasem.

          Rumah ibadah ini terletak ditepi Kali Lasem yang dulunya merupakan sarana transportasi dari daerah pedalaman ke daerah pantai (lihat gb. no.9). Kelenteng ini juga terkenal dengan nama ‘Kong Tik Cun Ong Bio’ (Guangze zun wang miao - Mandarin), atau ‘Temple to Holy King of Wide Extended Favour’. Seperti kedua kelenteng lainnya di Lasem, tanggal pendirian kelenteng ini juga tidak diketahui dengan pasti. Tapi menurut masyarakat setempat kelenteng ini merupakan tempat ibadah kedua tertua di Lasem setelah kelenteng Cu An Kiong. Poo An Bio didirikan bersamaan dengan berkembangnya permukiman China ke daerah Karangturi (setelah th. 1600) yang terletak sebelah Selatan dari jalan raya utama kota Lasem (grotepostweg) dan tidak jauh kali Lasem yang dulunya merupakan transportasi utama menuju ke dermaga (pelabuhan Lasem).
          Kelenteng ini dipersembahkan kepada ‘Kwee Sing Ong’ (Guo Shen Wang-Mandarin), seorang dewa yang kelenteng aslinya berada di desa Baijio di kabupaten Zhangzhou, propinsi Fujian, Tiongkok Selatan, dimana banyak warga China Lasem dulunya  yang berasal dari sana. Inskripsi yang paling tua yang terdapat di dalam kelenteng tersebut berangka tahun 1895. Kelenteng ini kemudian diperbaiki lagi pada th. 1919 dan 1927, seperti yang tertera pada dua batu prasasti yang terdapat di kelenteng tersebut. Pada hari  besar tertentu patung dewi ‘Tianhou’ (makco) dari kelenteng Cu An Kiong diarak keliling kota, kemudian disemayamkan di kelenteng Poo An Kiong, keesokan harinya diarak kembali ke kelenteng Cu An Kiong di Jl. Dasun. Pertunjukan yang dilakukan oleh Tangsin (orang yang dianggap sakti), seperti berjalan diatas bara api, mandi minyak panas, dan penyembuhan penyakit juga diadakan di kelenteng ini.









Sumber: Franke, 1997:481
Gb.no.6. Tampak depan kelenteng Po An Bio, Jl. Karangturi VII/13, Lasem. Po An Bio merupakan kelenteng kedua tertua di Lasem, didirkan bersamaan setelah berkembangnya  permukiman orang China di daerah Karangturi.



 
 












          Dari deskripsi singkat tentang ketiga kelenteng di Lasem tersebut dapat diambil kesimpulan sbb:
         
  1. Sebuah kelenteng akan didirikan oleh masyarakat China setelah mereka memutuskan diri untuk menetap di suatu tempat[10]. Jadi kelenteng merupakan pusat keagamaan dan pusat kegiatan sosial bagi masyarakat China pendukungnya. Perkembangan permukiman baru bagi orang China yang cukup luas pada sebuah kota, selalu diikuti dengan pendirian kelenteng baru.
2.     Mengingat  bahwa kelenteng bukan hanya tempat kehidupan keagamaan berlangsung, melainkan pula ungkapan lahiriah masyarakat yang mendukungnya (terbukti dengan adanya hubungan yang erat antara organisasi dan pemimpin masyarakat China seperti kapiten, letnan dsbnya, dengan kehadiran kelenteng tersebut ). Maka keberadaan kelenteng bisa dipakai sebagai titik tolak untuk mengetahui perkembangan masyarakat pendukungnya. Dalam hal kota Lasem (yang dimasa lalu mempunyai jumlah penduduk China cukup dominan[11]), bisa dipakai untuk menganalisis perkembangan kotanya.  
  1. Diantara ketiga bangunan kelenteng yang ada di kota Lasem,  yang tertua adalah kelenteng Cu An Kiong di Jl. Dasun no.7 (kelenteng Dasun), kedua adalah kelenteng Poo An Kiong di Jl. Karang turi VII/13 (kelenteng Karangturi),  dan ketiga adalah kelenteng  Gie Yong Bio di Jl. Babagan no.7 (kelenteng Babagan)
4.     Melihat umur kelenteng-kelenteng yang sudah ratusan tahun (antara abad ke 16-18), maka prosesi upacara-upacara keagamaan yang dilakukan oleh ketiga kelenteng di Lasem diduga juga seumur dengan kelentengnya.  Situasi prosesi keagamaan yang berpengaruh dalam menghidupkan suasana seluruh kota tersebut ikut menjadikannya sebagai bagian dari ‘jiwa’ sebuah kota, yang selama jaman ‘orde baru’ se-olah-olah kehilangan ‘roh’ nya.


Gb.no.7. Joli (Kio) yang ada di
Kelenteng Cu An Kiong. Pada hari
Raya China tertentu, di dalam Joli
tersebut diletakkan patung ‘Tianhou’,
yang diarak mengelilingi kota Lasem.
 
 














Gb.no.8.  Sebuah Mesjid yang dilukis oleh pelaut Belanda
waktu mengunjungi kota-kota di pantai Utara Jawa pada abad
ke 17 di kota Jepara (sebuah kota sebelah Barat Lasem).
..
 
 












 


Stasiun kereta api
 
Daerah permukiman Pribumi
 
Kelenteng Poo An Bio, Jl. Karangturi VII/13, Lasem.

 
Kelenteng Cu An Kiong, Jl. Dasun, No.19, Lasem.

 
Kelenteng Gie Yong Bio, Jl.Babagan, No..7, Lasem.

 

Gb.no.9. Situasi peta kota Lasem dengan perletakan ketiga buah kelentengnya.
 
 



PERLETAKAN KELENTENG DAN PERKEMBANGAN KOTA LASEM.

Architecture Of The Street

Traditionally there have never been plazas or squares in oriental cities. Their functions have been performed by streets. These Indian town plans had no plazas or square. The first step in town planning was to draw a line between to points (east-west) set by a sundial. A trunk road was built along the north-south line of this road and was called the Rajabata, or King’s road. Crossing roads were named the Mahakara, boulevard. These two types of road formed the basic skeleton of the town. Social space was provided by two roads, Rajabata, which be called the ‘sun road’ since the sun shone on it throughout the day, and the Mahakara, a ready passage for wind and hence the ‘Wind Road’. Public building and temples were erected along  the Rajabata and Mahakara, and a linden tree was planted at their intersection.The temples and public buildings was built along boulevards instead of being concentrated in the centre when they might enclose a public square or form the nucleus of the city. One possible reason why this arrangement was adopted was that it was convenient for festivals which in the east were mostly in the the form of processions rather than mass assemblies in a plaza.  The main street  was the scen of festive processions. ( Kurokawa, 1977: 135-142)    

         
Kota-kota kuno di Asia yang mendapat pengaruh Hindu/Budha seperti halnya di Jawa ini pada umumnya tidak pernah mempunyai apa yang sekarang disebut sebagai ‘plaza’[12]. ‘Jalan’ yang digunakan sebagai ‘ruang publik’ untuk suatu kegiatan ritual keagamaan bukan suatu barang baru bagi kota-kota di Asia, atau Jawa pada khususnya. Kota Jogjakarta yang merupakan kota terakhir yang dirancang oleh orang Jawa sendiri (Sultan Hamengkubuwono I, pada th.1755), menyediakan jalan Malioboro yang digunakan untuk keperluan ini[13].
Di Lasem kelenteng benar-benar merupakan ‘tengaran’ (landmark) bagi kotanya. Pada perayaan hari raya China (misalnya Imlek atau Cap Go Me), maka peran ‘jalan’ yang dipergunakan sebagai ‘ruang publik’ pada waktu perayaan keagamaan (hari besar orang China), akan terlihat dengan jelas. ‘Jalan’ sebagai tempat prosesi  perayaan tersebut memang tidak dirancang sebelumnya, tapi terjadi sebagai akibat dari perletakan ketiga kelenteng yang ada di Lasem. Berdirinya kelenteng baru tersebut sebagai akibat dari berkembangnya permukiman China di sana. Prosesi perayaan pada hari raya China ini diperkirakan sudah berusia ratusan tahun sesuai dengan berdirinya kelenteng-kelenteng di kota Lasem[14].
Prosesi perayaan yang terbesar setelah pelarangan selama orde baru terjadi pada bulan Oktober th. 2001.  Perayaan ini diselengarakan selama 3 hari (tgl 6 s/d 8 Oktober 2001). Prosesi dimulai pagi hari dengan upacara sembayang di kelenteng Cu An Kiong di jalan Dasun. Kemudian disusul dengan pertunjukan tarian Barongsai dan Liang-Liong (naga) di halaman depan kelenteng tersebut. Setelah itu ‘joli’ (kio) yang di dalamnya terdapat patung ‘tianhou’ dibawa bersama dengan tarian Barongsai dan Liang-Liong yang diiringi dengan musik perkusi dan tambur yang menambah meriah suasana berkeliling kota dengan penonton yang mengikuti sepanjang jalan. Setelah itu ‘joli’ tersebut dibawa ke kelenteng Poo An Bio di Jl. Karangturi VII/13, untuk disembayangkan. Malam harinya diadakan ritual Tang-Sin (pendeta suci) yang mandi minyak panas serta menginjak bara api yang ditonton oleh  banyak penduduk kota. Kesokan harinya juga dilakukan berbagai pertunjukan seperti penyembuhan, pada jaman sekarang ditambah dengan sulap dsb.nya. Baru kesokan harinya ‘joli’ tersebut diarak kembali ke kelenteng Cu An Kiong di Jl. Dasun.
Pada waktu itu seluruh kota seolah-olah sedang berpesta. ‘Jalan’ betul-betul berfungsi sebagai ‘ruang publik’. Mungkin itulah sebabnya rumah-rumah kuno orang China di Lasem (daerah Jl. Dasun dan Jl. Raya) dulu bentuknya sangat tertutup sekali. Batas antara ruang private dan ruang publik (jalan), adalah tembok pagar yang tinggi, dengan gerbang pintu masuk/keluar rumah yang diberi atap gaya arsitektur China yang khas.  
          Dibawah ini terdapat daftar acara prosesi perayaan pada hari raya Imlek th. 2001 yang lalu sbb:
Hari Sabtu tanggal 6 Oktober 2001 (Imlek 20 Pe Gwee 2552 [15])
11.00 -12.00          Yang Mulia KongCo Li Lo Jia dan MakCo Thian Siang Sing Bo naik Kio, Jut Bio dari kelenteng Cu An Kiong ke Kelenteng Poo An Bio
12.00 – 15.00        Penerimaan Kiem Sien dari luar kota.
15.00 – 17.00        Pertunjukan Barongsay dan Liong.
17.00 – 20.00        Lelang & Sulap Mr. Robin dari Bandung.
20.00 – Selesai    Upacara ritual Tang-sin mandi minyak dan menginjak bara api.
                                Yang mulia KongCo Li Lo Jia dan KongCo Kong Tik Cun Ong, naik Kio berjalan menginjak bara api.

Hari Minggu tanggal 7 Oktober 2001 (Imlek 21 Pe Gwee 2552)

10.00 - 17.00         Lomba Lukis dan ketangkasan anak-anak.
14.00 -18.00          Pengobatan oleh Tang-sin
19.00 – 21.00        Hiburan: Sulap, Akrobat, Tari-tarian dari Bandung.
23.00 – Selesai    Upacara sembahyangan King Mie Swaa.    


Hari Senin tanggal 8 Oktober 2001 (Imlek 22 Pe Gwee 2552)
10.30–Selesai Upacara Sembahyangan She-Jiet nya Yang Mulia    KongCo Kong Tik Cun Ong
13.00                                  KongCo Li Lo Jia dan MakCo Thian Siang Sing Bo naik Kio kembali ke Kelenteng Cu An Kiong.


Meskipun prosesi perayaan tersebut sudah mengalami transformasi, seperti dimasukkannya acara: lomba lukis, sulap dsb.nya. Tapi peran ketiga buah kelenteng sebagai ‘tengaran’ (landmark) kota dan inti dari perayaan yang membuat ‘jalan’ sebagai ‘ruang publik’ masih merupakan ciri khas kota Lasem, yang sekaligus sudah menjadi ‘jiwa’ dari kotanya. Jalan benar-benar berfungsi sebagai ‘architecture of the street’ pada waktu perayaan berlangsung. Dan kelenteng-kelenteng tersebut se-olah-olah telah mendapatkan ‘roh’nya kembali.

Perkembangan Kota Dan Perletakan Ketiga Kelenteng Di Lasem.
Adanya sungai yang mengalir tegak lurus kearah garis pantai (dalam hal ini Kali Lasem) yang dipergunakan sebagai sarana transportasi untuk penukaran hasil pertanian dari pedalaman. Kemudian dilanjutkan dengan berkembangnya penguasa setempat (dalam hal ini Ratu Dewi Indu atau Bre Lasem [16]) atas hasil perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang dari daerah lain atau pedagang asing (pedagang China). Merupakan cerita klasik dalam sejarah terbentuknya kota-kota disepanjang pantai Utara Jawa. (lihat: Widodo (1996), Reid, Peter J.M. Nas, dsbnya).
Perkembangan permukiman orang China yang pada mulanya hanya disekitar dermaga di tepi kali Lasem dengan pusat nya kelenteng Cu An Kiong. Pusat pemerintahan ada di jalan utama kota (kelak menjadi jalan raya Daendels), berupa bangunan keraton dengan alun-alun di depannya. Jadi pada mulanya terdapat dua buah pusat di kota Lasem. Yang pertama adalah ‘pusat pemerintahan’ yang ada di keraton. Dan yang kedua adalah ‘pusat perdagangan’ yang ada di dermaga tepi Kali Lasem. Permukiman orang China tersebut selanjutnya berkembang ke jalan raya (kelak menjadi grotepostweg), sampai ke alun-alun[17]. Sampai th. 1600 an tidak ada permukiman yang berarti disebelah Barat Kali Lasem (lihat gb. no.10).
 











10








 





 



Setelah th. 1600, banyak terjadi Imigrasi orang China terutama darii propinsi Fujian ke Lasem, karena dirasa banyak sanak saudara maupun rekannya yang telah tinggal disana[18]. Maka permukiman orang China di Lasem berkembang kearah Selatan jalan raya (kelak jalan Daendels), ditepi kali Lasem. Permukiman baru ini dinamakan Karangturi (lihat gb.no.12). Segera setelah itu didirikan sebuah kelenteng baru yang dinamakan Poo An Kiong. Belanda (VOC) menguasai Lasem pada th. 1679. Permukiman disebelah Barat Kali Lasem masih kelihatan kosong tanpa penghuni (lihat gb.no.12). Pusat kekuasaan yang ada di keraton depan alun-alun yang terletak ditepi jalan raya, mulai dibawah kontrol kekuasaan Belanda. Pasukan Belanda sendiri mendirikan bentengnya didaerah Tulis. Pada tahun 1750 benteng tersebut dipindahkan ke Rembang, dan pada tahun berikutnya kota Lasem diturunkan derajatnya dari kota Kabupaten menjadi kota Kecamatan sampai sekarang. Pusat kekuasaan yang ada didepan alun-alun kemudian berubah menjadi pusat perdagangan. Sedangkan pusat pemerintahannya berpindah ke Rembang (kota sebelah Barat, 13 km dari Lasem)
 
















Sekitar th. 1740 terjadi huru hara pembunuhan orang China di Batavia, yang berakhir dengan banyak nya orang China yang mengungsi kearah Timur. Lasem adalah salah satu kota yang dituju mengingat kota ini mempunyai banyak penduduk China. Untuk menampung perkembangan penduduk China ini maka dibukalah daerah disebelah Barat kali Lasem yang berdekatan dengan jalan raya (kelak menjadi jalan Daendels). Daerah baru ini dinamakan Babagan (lihat gb. no.13). Segera setelah itu didirikan sebuah kelenteng baru yang dinamakan Gie Yong Bio, sebagai tempat ibadah dan pusat kegiatan sosial bagi penduduk daerah baru tersebut. Pada th. 1808, Daendels menjadikan jalan Raya Lasem sebagai bagian dari jalan Raya Pos (grotepostweg) dari Anyer sampai Panarukan. Sejak saat itu sungai Lasem yang mulai mengalami pendangkalan sudah tidak banyak berperan sebagai sarana pengangkutan dari pedalaman ke daerah pantai. Orientasi kota Lasem beralih dari sungai Lasem kearah Jalan Raya Daendels (grotepostweg) tersebut.
Puncak kejayaan kota Lasem adalah pada waktu akhir abad ke 19. Pada waktu itu dibangun jalan kereta api yang menghubungkan Lasem dengan kota-kota pedalaman seperti Bojonegoro sampai Surabaya disebelah Timur dan sampai Semarang disebelah Barat[19]. Penyelundupan Opium, yang merupakan bagian jaringan perdagangan opium di Jawa lewat pelabuhan Lasem dan Rembang, ikut membuat sebagian orang China Lasem menjadi kaya[20]. Dalam waktu yang bersamaan berkembanglah permukiman China kearah Barat Kali Lasem dan sebelah Utara jalan Daendels. Daerah permukiman baru tersebut dinamakan ‘Gedong Mulyo’ (lihat gb.no.13).
Daerah Gedong Mulyo dirancang dengan jalan-jalan berpola ‘grid’ yang efisien. Rupanya daerah baru diakhir abad ke 19 ini dirancang oleh pemerintah Belanda. Di daerah baru ini tidak didirikan kelenteng. Gedung Mulyo merupakan permukiman China terakhir di kota Lasem. Dalam perkembangan selanjutnya daerah Gedong Mulyo ini juga merupakan permukiman berbagai etnis dari kelas menengah di Lasem. Permukiman orang Belanda secara khusus tidak ada di Lasem. Inilah yang membedakan perkembangan kota Lasem dengan kota-kota besar yang terletak di pantai Utara Jawa lainnya.
Dari akhir abad ke 19 sampai awal abad ke 21, boleh dikatakan tidak terjadi perkembangan yang signifikan pada kota Lasem. Bahkan boleh dikatakan mengalami kemandegan atau bahkan kemunduran. Penghancuran bangunan serta lingkungan kuno yang khas China-Lasem terus dilakukan terutama selama ‘orde baru’. Kelenteng sudah tidak populer lagi bagi angkatan muda Lasem. Tapi diawal abad ke 21 ini ada tanda-tanda mulai hidupnya kembali perayaan hari besar China di Lasem[21]. Apakah kelenteng yang menjadi ‘tengaran’ (landmark) ini bisa menjadi pemicu akan kemajuan kotanya?  Semoga.
 


Gb.no.13. Peta terakhir perkembangan Kota Lasem
 
















Kelenteng Babagan
 
 


KESIMPULAN

          Sebuah kota bukanlah merupakan hasil cipta satu generasi. Sebuah kota akan terus tumbuh dari satu generasi ke genersi lainnya. Pada dasarnya bentuk kota yang ada sekarang merupakan proses interaksi antar generasi. Bentuk kota yang ada sekarang merupakan lapisan-lapisan (layers) dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang telah mengalami perkembangan dan saling bertumpukan (superimposed). Jadi bentuk kota sesungguhnya merupakan kolasi-kolasi sejarah. Yang penting dalam pemekaran sebuah  kota adalah bagaimana menciptakan suatu perkembangan yang mampu memberikan kesan yang berkesinambungan (sense of continuity) bagi warga atau penghuninya.
Lasem sebuah kota tua yang sudah berumur ratusan tahun. Perkembangan kotanya dari satu generasi ke generasi lainnya selalu dipicu oleh perkembangan permukiman orang China yang disusul dengan pendirian kelenteng sebagai pusat orientasi kehidupan masyarakatnya (pada waktu itu). Sehingga pendirian sebuah kelenteng baru bisa dipakai sebagai tanda pemekaran permukiman orang China di Lasem. Tapi hal ini hanya berlaku sampai abad ke 19 saja. Karena sesudah itu pemekaran permukiman (daerah Gedong Mulyo) tidak disertai lagi dengan pembangunan kelenteng.
 Sekarang perkembangan kota Lasem seolah-olah mengalami suatu diskontinuitas dengan masa lalunya. Oleh sebab itu pengetahuan perkembangan kota dimasa lalu perlu dicermati sebagai bekal untuk perkembangan dimasa datang. Kota Lasem sekarang ini seolah-olah mengalami suatu disorientasi dalam perkembangannya. Dengan mengambil kelenteng sebagai salah satu ‘tengaran’ (landmark)[22], diharapkan bisa dipakai sebagai pemicu dalam menciptakan kembali sense of continuity bagi perkembangan kota nya. Tentu saja  dalam alam reformasi ini kita harus menghilangkan prasangka dan mengedepankan pluralitas yang hidup dalam masyarakat  yang majemuk ini.

Daftar Pustaka.

Carrey, Peter (1986), Orang Jawa Dan Masyarakat Cina 1755-1825, Pustaka Azet, Jakarta.
Franke, Wolfgang (1997) diedit oleh Claudine Salmon & Anthony K.K. Siu, Chinese Epigraphic Materials in Indonesia, Volume 2 Part 2 Java, South Seas Society, Singapore, Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Paris, Association Archipel, Paris.
Graaf, H. J. De & Th. G. Th. Pigeuad (1985), Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, PT Grafiti Pers, Jakarta.  Terutama Bab X : Sejarah Kerajaan-Kerajaan Daerah-Daerah Pantai Utara Jawa Timur Pada Abad ke 16: Tuban, hal. 163-171. dan Bab XXI : Sebab-Sebab Kekalahan Kerajaan Jawa Timur Dan Pesisir Dalam Perang Melawan Mataram Pada Abad ke 16 dan 17, hal. 297-304.
Graaf H.J. De & Th.G. Th. Pigeaud (1997), Cina Muslim Di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historis Dan Mitos (terjemahan dari: Chinese Muslim In Java in The 15 th And 16 th Centuries: The Malay Annals Of Semarang And Cerbon) , PT. Tiara Wacana Yogyakarta.
Handinoto (1990) Sekilas Tentang Arsitektur Cina Pada Akhir Abad Ke  XIX di Pasuruan , Dalam Majalah Dimensi   Arsitektur  Vol. 15/1990.
Handinoto (1999), Lingkungan “Pecinan” Dalam Tata Ruang Kota Di Jawa Pada Masa Kolonial, dalam majalah Dimensi  Arsitektur no.27/Juli 1999.
Kamzah, R. Panji (1858), Carita (Sejarah) Lasem, katurun/kajiplak dening R. Panji Karsono (1920), dalam buku Badra Santi, rumpakanipun mPu Santibadra , hal.10-65.
Khol, David G. (1984), Chinese Architecture in The Straits Settlements and Western Malaya: Temples Kongsis and Houses, Heineman Asia, Kuala Lumpur.
Kurokawa, Kisho (1977), Metabolism In Architecture, Studio Vista, London.
Levathes, Louise (1994), When Cina Ruled The Sea, The Treasure Fleet Of The Dragon Throne, 1405-1433, Simon & Schuster, New York.
Nas, Peter J.M. (1997), The Colonial City, Leiden. http://www.leidenuniv.nl/fsw/nas/pub_ColonialCity.htm
Nas, Peter J.M. dan Pratiwo (2002), Java and De Groote Postweg, La Grande Route, the Great Mail Road, Jalan Raya Pos, dalam Bijdragen 158.4, 2002, hal.707-725.
Pratiwo (1990), The Architecture Of Lasem: Typo-Morphological Approach For Redefining Chinese Architecture In Lasem, Katholieke Uniersiteit Leuven.
Pratiwo (1996), The Transformation of Traditional Chinese Architecture: A Way to Interpret Issues on Modernisation and Urban Development on the North-Eastern Coast of Central Java, Indonesia, Aachen, Ph.D Thesis.
Pratiwo (2002), The Chinese Town Lasem dalam buku The Indonesian Town Rivisited, LIT Verlag, Germany, Peter J.M. Nas (ed) hal.147-171.
Reid, Anthony (1996), Flows and Sweepages in the Long-term Chinese Interaction with Southeast Asia, dalam buku  Sojourners and Settler: Histories of Southeast Asia and the Chinese, University Of Hawai’i  Press, Honolulu, hal. 15 - 50.
Reid, Anthony (2004), Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Sebuah Pemetaan, Pustaka LP3ES Indonesia. Terjemahan dari Charting The Shape Of Early Modern Asia.
Rush, James R. (2000), Opium To Java, Jawa Dalam Cengkraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910, Mata Bangsa , Yogyakarta.
Salmon, Claudine & Denys Lombard (1985), Klenteng-Klenteng Masyarakat Tionghoa di Jakarta, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta.
Salmon, Claudine & Denys Lombard (1991), The Han Family of East Java Entrepreneurship and Politics (18th-19th Centuries), dalam majalah Archipel 41 (1991), hal.53-87.
Sunartio, Anindhita N. (2001), Perancangan Kawasan Pusat Kota Lama Lasem, Studi Kasus: Lingkungan Sekitar Alun-Alun Lasem, Program Magister Arsitektur, Program Pasca Sarjana, Institut Teknologi Bandung.
Suryadinata, Leo (1986), Politik Tionghoa Peranakan di Jawa 1917-1942, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Suryadinata, Leo (2002), Negara Dan Etnis Tionghoa, LP3ES,  Jakarta.
Toer, Pramoedya Ananta (1996), Arus Balik, Hasta Mitra, Jakarta.
Viaro, Alain (1992), Is The Chinese Shophouse Chinese? (Draft English translation from ”Le compartiment Chinois est-il Chinois?, publ.in :Les Cahiers de la Recherche Architecturale “Arcitectures et cultures”, 27-28/1992, Ed. Parentheses, Marseille:139-150)
Widodo, Johannes (1996), The Urban History of The Southeast Asian Coastal Cities, disertasi Doktor, University Of Tokyo.


[1] Kerajaan Lasem sudah ada sejak th. 1351 masehi, dibawah imperium Majapahit. Kerajaannya dipimpin oleh Ratu Dewi Indu atau Bhre Lasem, yang menurut buku Badra Santi, masih keponakan raja Hayam Wuruk
“Dhek nalika taun Syaka 1273 sing dadi Ratu aneng Lasem iku asma Dewi Indu, adhik nakdulur misane Prabu Hayam Wuruk ing Wilwatikta” (Kamzah, 1858:10)

Pada jaman kolonial status kota Lasem adalah sebuah kota Kabupaten. Tapi sejak th. 1750, Kabupatennya dipindahkan ke Rembang, diikuti dengan pindahnya benteng VOC dari kota tersebut pada tahun itu. Sejak  th. 1751 Lasem berstatus sebagai kota Kecamatan sampai sekarang.
[2] Tentang keseharian kehidupan di kota Lasem masa kini, dilukiskan dengan baik sekali oleh Pratiwo dalam bab: Urban Life in Small Town pada tulisannya yang berjudul The Chinese Town Lasem, dalam buku: The Indonsian Town Revisited, Lit Verlag, Institute Of Southeast Asian Studies, Singapore, hal.147-171..
[3] Tidak semua hari raya China dirayakan secara besar-besaran. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hari raya orang China di Indonesia baca: Han Swan Tiem (1953), Hari Raya Tionghoa, J.B. Wolters, Jakarta, Groningen. Lihat juga Salmon, Literature, 360; Basuki Soedjatmiko (ed), Hari Raya Tionghoa Tempo Doeloe di Hindia Belanda 1885 (Surabaya:Rama Press, 1983); 100 pp.
[4] Pada tahun 1967 rezim ‘orde baru’ mengeluarkan Inpres (Instruksi Presiden) Nomor 14 Tahun 1967, yang isinya melarang perayaan-perayaan, pesta agama dan adat istiadat China. Baru pada pasca kerusuhan Mei 1998, bermacam-macam kelonggaran diberikan kepada komunitas China. Pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dikeluarkan Kepres (Keputusan Presiden) Nomor 6 Tahun 2000, tentang pencabutan Inpres No. 14 Tahun 1967. Ini merupakan pengakuan bahwa masyarakat China adalah bagian dari bangsa Indonesia. Bahkan pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri , Hari Raya Imlek ditetapkan dalam daftar tanggal merah almanak Indonesia.
[5] Banyak orang tua setempat mengatakan bahwa kelenteng tersebut sudah ada sejak abad ke 15, tapi tidak ada bukti tertulis mengenai hal itu. Hilangnya bukti awal pendirian sebuah kelenteng disebabkan karena kelenteng (terutama di daerah pantai Utara Jawa) sering mengalami berbagai peristiwa ‘jatuh bangun’, akibat pertikaian sosial. Sehingga sebuah kelenteng sering rusak atau dirobohkan kemudian dibangun kembali setelah keadaan memungkinkan. Tulisan H.J.De Graff (1985:297) menjelaskan: “ Selama kira-kira seratus tahun, dari pertengahan abad ke 16 sampai pertengahan abad ke 17, empat orang raja (terutama yang kedua dan yang keempat yaitu Penembahan Senopati dan Sultan Agung) dengan kekuatan dan kekerasan telah memaksa hampir semua raja Jawa Tengah dan Jawa Timur tunduk pada kekuasaan tertinggi Mataram. Pada waktu itu banyak tempat kediaman raja, yang merupakan pusat lalu lintas perdagangan, ilmu pengetahuan Islam dan pusat kesusasteraan dan kesenian Jawa yang terletak didaerah sepanjang pantai Utara Jawa  (mulai dari Jepara dan Demak sampai Panarukan dan Blambangan), mengalami kehancuran “.
 Ada dugaan beberapa bangunan kelenteng di pantai Utara Jawa dulunya adalah mesjid yang didirikan oleh anak buah laksamana Zheng He (Cheng Ho), yang beragama Islam mahzab Hanafi dan berasal dari Yunan, ketika ‘menguasai’ daerah Nanyang  (laut Selatan) antara th.1405-1425. Tercatat dari kronik Sam Po Kong ( Sjamsudduha, Sejarah Sunan Ampel, JP Press, 2004:87), mereka ini mendirikan mesjid di : Ancol Jakarta, Semarang, Sembung (Cirebon), Lasem, Tuban, Tse Tsun (Gresik), Jiaotung ( Joratan), Cangki (Mojokerto), Jepara (lihat gb.no. 8.) dsb.nya. Salah satu sumber yang belum dipastikan kebenarannya mengatakan bahwa: sekitar th. 1450-1475 dengan mundurnya dinasti Ming, hubungan antara Tiongkok dengan masyarakat China-Islam di Jawa terputus. Pada waktu bersamaan banyak pendatang baru dari Tiongkok Selatan (Fujian, Guandong dsb.nya) menggeser kepercayaan orang China-Islam yang terutama tinggal di Pantai Utara Jawa. Akibatnya banyak mesjid yang dikelola orang China-Islam kemudian berubah menjadi kelenteng.
[6] Istilah Kapitein ( Kapitan-Indonesia), berasal dari bahasa Spanyol untuk “Kapten”, tapi dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan urusan militer. Kapitan adalah sebuah gelar yang diberikan kepada kepala kelompok ras (dalam hal ini kelompok China). Seorang Kapitan diberikan kekuasaan oleh pemerintah kolonial untuk mengatur urusan kelompok ras tersebut yang berkenaan dengan agama dan adat istiadat. Ia juga diharapkan untuk menyelesaikan pertikaian diantara kelompok rasnya sehubungan dengan hukum adat ( Suryadinata,2002:74)
[7] Meskipun punya bentuk tulisan yang sama, aksara China bisa diucapkan secara berbeda dalam berbagai dialek. Contoh: pada aksara yang sama nama Huang Xingguo (Mandarin), bisa diucapkan menjadi  Ong Ek Thay dalam dialek Hokkian.
[8] Tianhou atau Ma Zu atau Mak Co (Hokkian), juga dikenal dengan sebutan Tian Shang Sheng Mu ( Mandarin) atau Thian Siang Sing Bo adalah dewi pelindung bagi pelaut asal Fujian (Hokkian). Banyak kelenteng Tianhou menyebar sepanjang kota-kota pantai di Asia Tenggara. Hal ini menandakan route perjalanan orang-orang asal propisi Fujian yang mengembara ke laut Selatan atau Nanyang. Tentang riwayat Thian Siang Sing Bo lihat http://www.kelenteng.com/dewadewi/tianshangshengmu.shtml
[9] Fude zhengshen adalah ‘dewa bumi dan kekayaan’. Oleh orang Fujian disebut sebagai Hok tek ceng sin atau Toa pe kong (Da bo gong- Mandarin). Dewa ini juga banyak didapati pada kelenteng-kelenteng diseluruh Jawa.
[10] Tentang hubungan sejarah perkembangan kota-kota pantai di sepanjang Asia Tenggara dan permukiman orang China dengan kelentengnya lihat : Widodo, Yohannes (1996), The Urban History of The Southeast Asian Coastal Cities. Ph.D. Dissertation, University Of Tokyo.
[11] Pada th. 1815, jumlah penduduk China di Kabupaten Rembang (termasuk kota kecamatan Lasem) adalah 3.891 (2,45% dari penduduk keseluruhan yang berjumlah 158.530). Ini termasuk yang tertinggi karena pada waktu itu untuk Jawa Timur dan Jawa Tengah, jumlah orang China rata-rata hanya 1.03% saja dari keseluruhan jumlah penduduk. 
[12] Penjelasan lebih lanjut tentang hal ini baca : Kurokawa, Kisho (1977), Metabolism In Architecture, Studio Vista, London, pada Bab 3, hal. 135-142.
[13] Alun-alun pada awal perkembangannya bukan merupakan ‘ruang publik seperti “Agora’ di Yunani. Alun-alun, pada awalnya merupakan bagian ‘sakral’ dari komplek keraton. Orang harus turun dari kendaraan kalau memasuki alun-alun. Penjelasan selanjutnya tentang awal perkembangan alun-alun baca: Pigeaud, Theodore.G.Th. (1940), De Noorder Aloen-Aloen te Yogyakarta, dalam majalah Djawa no.3, Mei 1940, hal.176-184. Jalan Malioboro lah yang pada awalnya disediakan bagi ‘ruang publik’. Tentang jalan Malioboro yang disediakan sebagai ‘ruang publik’ lihat: Carey, Peter (1984) Jalan Maliabara (‘Garland Bearing Street’);  The Etymology And Historical Origins Of A Much Misunderstood Yogyakarta Street Name, Archipel 27, hal. 51-63.
[14] Arak-arakan prosesi hari besar orang China ini sempat terhenti selama orde baru (th. 1967 s/d th.2000.).
[15] Penanggalan (Almanak) Tionghoa.
[16] Sumber utama sejarah masa lalu Lasem didapat dari : Kamzah, R. Panji (1858), Carita (Sejarah) Lasem, katurun/kajiplak dening R. Panji Karsono (1920), dalam buku Badra Santi, rumpakanipun mPu Santibadra , hal.10-65. Buku tersebut ditulis dalam bhs Jawa.

[17] Dalam kasus negara kota seperti Lasem tersebut ‘pasar’ sebagai ‘pusat perekonomian’ dan ‘istana’ sebagai ‘pusat politik/kekuasaan’ memiliki nilai-nilai yang berbeda. Ketika pertumbuhan perdagangan sangat cepat, mungkin pasar mendapat hasil yang lebih besar dari istana/keraton. 
[18] Menurut catatan kebanyakan mereka ini berasal dari desa Baijio di kabupaten Zhangzhou, propinsi Fujian, Tiongkok Selatan.
[19] Stasiun kereta api Lasem ditutup pada th. 1989, karena dianggap tidak efisien akibat sudah banyaknya kendaraan angkutan umum yang lewat jalan raya.
[20] Tentang perdagangan dan penyelundupan opium di Jawa lihat: Rush, James R. (2000), Opium To Java, Jawa Dalam Cengkraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860-1910, Mata Bangsa , Yogyakarta
[21] Wawancara penulis dengan tokoh Tionghoa masyarakat Lasem,antara lain dengan Bp. Sigit Wicaksono (Njo Tjoen Hian) dan kaum muda nya mengatakan: bahwa pada umumnya mereka sudah beragama Katholik atau Kristen, tapi mereka masih punya hubungan erat dengan kelenteng, yang mereka anggap sebagai warisan adat nenek moyang yang harus dihormati dan dilestarikan.
[22] Kelenteng dan alun-alun merupakan ‘tengaran’ (landmark) bagi kota Lasem yang bisa digunakan sebagai titik tolak untuk menghidupkan kembali kota Lasem yang sekarang kelihatan makin merosot citranya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar