Minggu, 01 Mei 2011

NILAI-NILAI PLURALISME ISLAM JENDERAL CHENG HO


NILAI-NILAI PLURALISME ISLAM JENDERAL CHENG HO



dikutip dari : Dian Maya Safitri*
ABSTRACT
This paper attempts to describe the tolerance among various religious rituals and groups in Sam Po Kong temple in Semarang. This kind of religious harmony is the reflection of General Cheng Ho’s pacifist and pluralist characteristic to non-Muslims, particularly the Chinese. This phenomenon is well-suited with Geertz’s dictum : religion is the model of and for reality. Next, through fieldwork research and anthropological approach, I figured out that there exists syncretism of Javanese abangan, Islam, Taoism, and Buddhism. By using Geertz and Durkheim’s functionalist theories, I will classify religious communities in Sam Po Kong temple into three groups that worship different transcendent. The beginning of this paper will depict the historical adventure of Cheng Ho, as the principal figure in this Sam Po Kong shrine. The next part explains the Geertz and Durkheim theories as the bases for this paper’s analysis. The third part accounts the instances of Javanese abangan, Islamic, Tao, and Buddhist influences existing in this pantheon. The remainder of this paper will argue that Indonesian muslims, who are considered as the largest Muslim community in the Islamic world, should learn the values of tolerance and pluralism through Cheng Ho’s wisdom in order to eliminate the concept of “religious Other” .
Key words: syncretism, Sam Po Kong temple, General Cheng Ho, pluralism


*Mahasiswa Pascasarjana UGM, jurusan Lintas Agama dan Budaya

Dalam banyak catatan sejarah di Indonesia, Islam selalu mengalami sinkretisme[1] dengan budaya lokal sehingga dapat mudah diterima oleh masyarakat setempat. Perpaduan antara agama dan budaya lokal ini kemudian memunculkan ciri khas tersendiri dalam komunitas Muslim Indonesia yang akhirnya memperkaya keberagaman di negeri ini. Tak hanya itu, banyaknya variasi “Islam” di Indonesia akibat pertemuan dengan budaya lokal telah menjadikan “Islam a la Indonesia” berbeda dengan “Islam versi Turki”, “Islam Timur Tengah”, “Islam Bosnia”, dll. Maka, tak heran kalau WC Smith mengatakan bahwa kata “Islam” itu bukanlah singular, melainkan plural (Islams)[2]. Bahkan, Kwame Anthony Appiah menyatakan bahwa dalam dunia modern kini, agama telah berfungsi menjadi suatu identitas sosial[3].
   Proses dakwah Islam di Pulau Jawa termasuk menarik karena melibatkan budaya lokal, seperti yang dilakukan oleh Wali Songo. Menurut Ayzumardi Azra, Islam di Jawa merupakan proses percampuran antara great tradition atau Islam normatif dengan little tradition atau yang disebut juga dengan local tradition[4]. “Hal ini terjadi karena Islamisasi yang terjadi di Indonesia, terutama di Jawa, lebih bersifat kontinuitas apa yang sudah ada dan bukannya perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagmaan lokal[5].
Di Klenteng Sam Po Kong di Semarang, sinkretisme antara agama-agama besar dunia, seperti Islam, Taoisme, dan Budha, dan budaya lokal yang berupa abangan[6] juga tidak dapat dielakkan. Keunikan berbagai sinkretisme ini menciptakan tiga kelompok kuil yang memiliki transenden (suatu kekuatan luar biasa yang disembah, terj. penulis) yang berbeda-beda. Pada kuil yang pertama, transenden yang disembah adalah Laksamana Cheng Ho melalui Gua Suci Sam Po Kong. Sementara itu, pengikut kuil yang kedua menyembah makam Mbah Juru Mudi. Kuil yang terakhir dipenuhi oleh mereka yang ingin berdoa pada Dewa Bumi.
Pengunjung yang ingin melihat Klenteng Sam Po Kong pun terdiri dari kaum lintas agama dan lintas etnis, seperti orang Muslim, Cina, dan Jawa untuk bermacam tujuan yang berbeda. Orang Muslim ingin menegnal lebih dekat sosok Cheng Ho melalui peninggalannya. Orang Cina ingin menghormati Cheng Ho sebagai leluhur mereka yang telah membawa nama baik bagi bangsa Cina, meskipun ia beragama Islam. Sementara itu, orang Jawa yang abangan ingin melakukan semedi di kuil Mbah Juru Mudi. Semua keberagaman ini adalah warisan dari sifat dan sikap Cheng Ho yang sangat toleran terhadap perbedaan. Kisah tentang petualangan Cheng Ho dan karakter pluralisnya yang tersohor akan dijelaskan pada bagian berikut.

Laksamana Cheng Ho, Sang Penjelajah Berhati Mulia dari Timur     

Nora C. Buckley menyebutkan bahwa Cheng Ho adalah seorang Muslim keturunan Arab-Mongol yang memiliki nama asli Ma Ho.  Pada tahun 1381, ia dikirim ke istana milik Dinasti Ming bersama-sama dengan beberapa anak muda lainnya untuk melindungi selir-selir kaisar. Karena itulah, ia mendapatkan pelatihan di sekolah militer khusus untuk menjadi prajurit cadangan di medan tempur.  Nama “Cheng Ho” ia dapatkan untuk menghargai keberanian dan pengabdiannya[7]. Sementara itu, terdapat bermacam-macam pendapat di kalangan sejarawan mengenai  makna nama “Sam Po” (atau “San Bao” dalam bahasa Tiongkok).  “San” artinya “tiga”, sedangkan “Bao” bermakna “pelindung” dan “pusaka”. Menurut Kong Yuanzhi, yang paling memungkinkan adalah pendapat bahwa “San Bao” yang bermakna “tiga pusaka” dalam agama Budha, yaitu Budha, biksu, dan kitab suci agama Budha[8]. Pendapat ini didukung oleh Buckley yang menyatakan bahwa laksamana Cheng Ho memang memilih gelar Budha “Sam Po” sebagai penghormatan atas tiga kebajikan[9]. Nama “Kong”—yang hanya terkenal di kalangan orang Cina Semarang—bermakna “seorang leluhur yang dihormati” [10].
Selama dua puluh tahun selanjutnya, Cheng Ho sukses dalam memimpin tujuh misi pelayaran kekaisaran ke 37 negara di pesisir Indocina, Samudera Hindia, Teluk Persia, Laut Merah, dan pesisir timur Afrika dengan menggunakan lebih dari 1.500 kapal yang canggih serta 28.000 kekuatan tentara dan ahli kelautan[11]. Bahkan, berdasarkan penelitian Prof. Yuanzhi, kehebatan kapal-kapal Cheng Ho selama ekspedisi maritim jauh melebihi para bahariwan barat yang termasyhur di masa lampau, seperti Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan. Di samping itu, susunan armada Cheng Ho sangat termanajemen dengan baik dengan cara membagi armadanya menjadi 4 bagian, yaitu bagian komando, bagian teknik navigasi, bagian kemiliteran, dan bagian logistik[12].   
Kelebihan lain yang dimiliki Laksamana Cheng Ho jika dibandingkan dengan penjelajah barat lainnya adalah sikap bijaksana, toleransi, serta kepemimpinannya yang selalu menggunakan pendekatan damai. Sudah jamak diketahui bahwa para bahariwan Barat yang menjelajah negeri-negeri yang lain pada waktu itu melaksanakan prinsip “gold, gospel, glory”, atau menjajah negeri asing yang mereka temukan demi kejayaan kerajaan Eropa, sekaligus mengeruk semua kekayaan yang ada di negeri tersebut sembari menyebarkan agama Kristen. Pada praktiknya, pendekatan yang digunakan para penjelajah barat umumnya adalah dengan cara memerangi suku setempat. Bahkan, banyak juga anggota suku yang dipaksa untuk belajar budaya Barat, berbahasa Spanyol atau Portugis, dan masuk Kristen, seperti yang terjadi pada suku Indian di Amerika Latin.
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang dilakukan Jendral Cheng Ho. Walaupun seorang Muslim, ia tetap menghormati budaya lokal dan tidak memaksa penduduk setempat untuk memeluk agama Islam. Ia juga menghormati awak kapalnya yang sebagian besar melaksanakan ritual agama Tao dan Budha. Contohnya, ia tidak pernah melarang anak buahnya untuk menyembah Dewi Sakti yang dipercaya sebagai pelindung di laut jika ada badai[13].  Bukti lain dari sikap toleran Cheng Ho adalah diundangnya Fei Huan, seorang pendeta agama Budha untuk ikut serta dalam pelayaran ke Samudera Hindia[14]. Cheng Ho juga menanamkan sikap perdamaian sejak dini kepada seluruh anak buahnya. Menurut Buya Hamka dalam Star Weekly pada tanggal 18 Maret 1961, Cheng Ho mengatakan kepada awak kapalnya bahwa tidak banyak senjata pembunuh di dalam kapal. Yang banyak justru “senjata budi” yang akan dipakai untuk menghadapi para raja negeri asing nantinya[15].
Dalam hubungannya dengan negara yang disinggahi oleh kapalnya, Cheng Ho termasyhur sebagai mediator yang berjasa dalam menangani konflik internal dan regional. Pada tahun 1409, ia menjadi penengah dalam perjanjian damai antara  Malaka (sekarang Malaysia) dan Siam (sekarang Thailand). Di Malaysia, ia pernah membantu raja setempat untuk melindungi Putri Han Li Bao, calon istri Sultan Mansyur Syah. Selama perjalanan menuju “Pelabuhan Lama” atau Ba Lin Bang (sekarang disebut dengan Palembang), ia sukses menaklukkan Chen Zhu Yi, seorang perompak terkenal, beserta 5.000 anak buahnya. Yang terakhir, Cheng Ho menjadi tokoh utama dalam gencatan senjata untuk perang saudara antara Zainal Abidin dan Iskandar (Su Gan La).[16] Jasa-jasa Cheng Ho yang besar akhirnya bermanfaat untuk mempererat persahabatan antara Kekaisaran Cina dan raja-raja di negeri-negeri yang ia datangi. Bahkan, awak kapalnya ada yang menikahi penduduk setempat, seperti Sam Po Soei Soe yang beristrikan seorang gadis Betawi[17].  Posisi diplomatik Cheng Ho juga diperkuat dengan kehadiran Shen-Hui, seorang biksu Budha, dan Hasan, Imam Masjid Ching Chin di Siam[18]. Maka, wajar jika para penguasa negeri asing yang ia singgahi memberikan balas jasa berupa barang-barang perdagangan dan tanaman serta binatang-binatang yang eksotis, seperti Raja Hulumosi dari Iran yang memberikan Jerapah[19].
Kepopuleran dan kebaikan hati Cheng Ho ternyata memberikan kesan yang mendalam bagi para penduduk di negeri-negeri yang ia singgahi. Untuk mengenang Laksamana Cheng Ho, maka didirikanlah Klenteng Sam Po Kong, tak hanya di Semarang, tapi juga di negara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura.  Uniknya, kesemua Klenteng Sam Po Kong ini menjadi perekat hubungan antar etnis, khususnya Melayu-Muslim dan Cina-Budha. Contohnya, Klenteng Sam Po Kong di Malaysia dijaga oleh seorang Muslim Melayu yang bernama Abdulah Bakar atas perintah suatu partai Islam di Malaysia, meskipun yang berkunjung ke klenteng tersebut semuanya adalah keturunan Tionghoa yang beragama Budha ataupun yang menyembah nenek moyang. Di Indonesia pun, seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, pengunjung klenteng Sam Po Kong terdiri dari berbagai macam agama dengan berbagai macam tujuan, seperti Jawa-Muslim yang ingin melihat peninggalan Cheng Ho, Tionghoa-non Muslim yang ingin berdoa pada Cheng Ho, serta kaum abangan yang ingin mencari wangsit. Selain itu, kesamaan yang lain di semua Klenteng Cheng Ho adalah disembahnya Cheng Ho karena ia dianggap sebagai dewa[20]
Di bagian selanjutnya, penulis akan mendeskripsikan tentang Klenteng Cheng Ho di Semarang yang menjadi salah satu objek wisata favorit di Indonesia.

Klenteng Sam Po Kong di Semarang: Miniatur Bhinneka Tunggal Ika Melalui Sosok Sang Laksamana

Klenteng Sam Po Kong terletak di kawasan Gedung Batu, Semarang. Istilah “klenteng” diambil dari bahasa Indonesia dan tidak dikenal di dataran Cina. Kata “klenteng” terinspirasi dari bunyi “klenteng-klenteng” atau “klinting-klinting” yang berasal dari genta-genta kecil[21].
Dahulu, klenteng ini merupakan sebuah masjid yang didirikan oleh para keturunan Tionghoa Muslim di Semarang. Cheng Ho sempat mengunjungi masjid ini di tahun 1413. Kemudian, ketika Jin Bun datang ke Semarang pada tahun 1474, masjid ini telah diubah menjadi sebuah klenteng. Sejak saat itu, klenteng tersebut tetap menjadi tempat ibadah bagi keturunan Tionghoa non-Muslim, walaupun Jin Bun yang seorang Muslim akhirnya menjadi Sultan Demak. Sifat Jin Bun yang simpatik diapresiasi dengan baik oleh para keturunan Tionghoa non-Muslim di Semarang[22] 
Sementara itu, versi cerita tentang sejarah pendirian Klenteng Sam Po Kong yang lain diungkapkan oleh Prof. Kong Yuanzhi. Ia menceritakan bahwa Klenteng Sam Po Kong mulanya hanyalah gua yang dikeramatkan dan hanya terdiri dari sebuah patung Laksamana Cheng Ho untuk menghormati kebaikannya. Wang Jinghonglah yang menbangun patung tersebut, sedangkan gua yang menjadi tempat ibadah tadinya adalah tempat peristirahatan sementara untuk mengobati Wang Jinghong yang kala itu sedang sakit keras.  Wang Jinghong dan anak buahnya kemudian menetap di Semarang hingga akhir hayatnya.  Ia dikebumikan secara Islam dan makamnya termasuk sebagai salah satu objek yang disembah di kuil Sam Po Kong. Oleh masyarakat Cina Semarang, ia dijuluki Mbah Kiai Juru Mudi Dampo Awang atau Mbah Juru Mudi. Sayangnya, pada abad ke-19, area Gedung Batu dikuasai oleh seorang Yahudi bernama Johannes yang tamak dan meminta bayaran bagi orang Cina yang ingin beribadah di Klenteng tersebut. Seorang pengusaha Tionghoa bernama Oei Tjie Sien atau “Raja Gula” akhirnya berhasil membeli tanah di Gedung Batu milik Johannes dan membebaskan kaum Tionghoa untuk beribadah kembali[23].
Kini, Klenteng Sam Po Kong di bawah Yayasan Klenteng Sam Po Kong berkembang dengan sangat baik dan termanajemen dengan rapi. Klenteng ini dipugar dan wilayahnya diperluas. Arsitektur Klenteng ini merupakan perpaduan dari budaya Jawa dan budaya Cina. Di hampir seluruh area klenteng ini, terdapat pahatan gambar kapal  Sam Po Kong dan naga sebagai makhluk suci yang dipercaya oleh orang Cina sebagai kekuatan gaib yang menguasai dunia. Kawasan ini “dijaga” oleh empat jenderal yang disimbolkan dalam bentuk patung. Sebagian dari patung ini menyerupai manusia biasa, sedangkan dua sisanya mirip dengan gambaran dewa-dewa Cina, dengan janggut panjang, wajah yang unik, dan pakaian dengan atribut khusus[24]
Klenteng ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu Kuil Sam Po Kong, kuil Mbah Juru Mudi, dan kuil Dewa Bumi.  Kesemua kuil ini memiliki arsitektur yang mirip dan didasarkan pada arsitektur Istana Terlarang di Cina dengan ciri khas gaya atap yang bertumpuk tiga yang melambangkan kelopak teratai.  Warna yang dominan pada setiap bangunan di Klenteng Sam Po Kong adalah merah, kuning, dan hijau. Dalam budaya Cina, warna merah melambangkan kebahagiaan dan menolak pengaruh jahat, warna hijau merepresentasikan warna alam, dan warna kuning adalah warna kekaisaran[25]. Sedangkan , sentuhan budaya Jawa terlihat dari pendopo di pintu gerbang, patung togog, dan ukir-ukiran di beberapa bagian klenteng.


[1]Saya mendefinisikan “sinkretisme” sebagaimana yang diartikan oleh Muhammad Hanif, yaitu sebuah pola budaya baru yang terjadi dari proses menggabungkan, mengkombinasikan unsure-unsur asli dengan unsure-unsur asing. Proses penggabungan ini disebut dengan “sinkretisasi”. Hanif menambahkan bahwa oleh sebagian ahli antropologi, sinkretisme dianggap sebagai salah tiga hasil akulturasi, yakni (1) penerimaan, (2) penyesuaian, (3) reaksi. Lihat Muhammad Hanif, “Dakwah Islam Kultural : Studi atas Apresiasi Kiai Masrur Ahmad MZ (lahir 1963) terhadap Seni Jathilan di Kelurahan Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta”, 2006, Universitas Gadjah Mada, tesis tidak terbit.
[2]Wilfred Cantwell Smith, the Meaning and the End of Religion, ..........................................
[3]Lihat Kwame Anthony Appiah, “Causes of Quarrel : What’s Special about Religious Dispute?,” dalam Thomas Banchoff (ed.), Religious Pluralism, Globalization, and World Politics (New York: Oxford University Press, 2009), h. 46-47. Appiah berpendapat bahwa agama memiliki tiga fungsi dalam masyarakat modern, yaitu sebagai identitas sosial, sistem integratif dari simbol-simbol, dan standar epistemologi sosial. Identitas sosial inilah yang nantinya menjadi ciri utama dari tiga kelompok agama yang berbeda di tiga kuil utama di Klenteng Sam Po Kong. 
[4]Ayzumardi Azra, “Pluralisme Islam dalam Perspektif Historis,” dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak (Bandung: Penerbit Nuansa, 2005)h. 150
[5]Ayzumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII, h. 35, seperti yang dikutip oleh Salehuddin. Lihat Ahmad Salehuddin, “Masjid yang terbelah di Gunungsari: Tarik-menarik antar Aliran Islam dalam Masyarakat Jawa”, 2006, Universitas Gadjah Mada, tesis tidak terbit, h. 4.
[6]Istilah abangan ini, walaupun sudah ada sejak lama, awalnya dipopulerkan oleh antropolog Clifford Geertz dalam opus magnusnya yang berjudul Religion of Java (1960, hal. 126-130)  yang membagi penganut Islam di Yogyakarta menjadi tiga bagian, yaitu abangan, priyayi, dan santri. Jika pengikut abangan dan priyayi memadukan antara filsafat Jawa, animism, dan Islam, para santri memilih untuk berpegang teguh pada “ajaran Islam dari sumbernya” serta menjalankan perintah Quran secara ketat.
[7]Nora C. Buckley, “The Extraordinary Voyages of Admiral Cheng Ho, History today Vol. 71 (1975), h. 462
[8]Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho:; Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (Jakarta : Pustaka Populer Obor, 2000)h. 33
[9]Op. cit., Nora C Buckley, “The Extraordinary Voyages”, h. 463
[10]Informasi ini didapatkan dari wawancara dengan Suyono, guide di Klenteng Sam Po Kong.
[11]Op. cit., Nora C Buckley, “The Extraordinary Voyages”, h. 464
[12]Op. cit., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 4-5. 
[13]Ibid., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 40. Bahkan, berdasarkan catatan Buckley (h. 464), Cheng Ho juga ikut memberikan penghormatan kepada Tien Fei, Dewi Laut,  yang merupakan salah satu dewi dalam agama Budha yang dipercaya dapat  menyelamatkan orang yang tenggelam di lautan lepas.
[14]Ibid., Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,  h. 40.
[15]Seperti yang dikutip oleh Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,           h. xix.
[16]Semua informasi ini dikutip dari pahatan-pahatan batu yang ada di Klenteng Sam Po Kong di Semarang. Referensi dari informasi ini bersumber dari The Documentary R.ecords of the Ming Dynasty, bab 71: The History of Far East, dan The History of Lou Dong Liu Jia Gan Tian Fei Palace. Masih menurut informasi di batu pahatan tersebut, pada tahun 1415, Cheng Ho dan pasukannya tiba di Aceh (Sumendala). Ketika itu, Raja Aceh dibunuh oleh Raja Nakur dari Batak. Berhubung Raja Zainal Abidin terlalu belia untuk membalaskan dendam kematian ayahnya, Ratu Aceh membuat sayembara bahwa siapa saja yang dapat membunuh Raja Nakur dapat menikahi Sang Ratu dan menjadi raja selanjutnya. Sayembara ini dimenangkan oleh seorang nelayan yang akhirnya dapat membunuh Raja Nakur dan akhirnya memimpin Aceh bersama dengan Sang Ratu. Sewaktu Zainal Abidin beranjak dewasa, ia merencanakan kudeta terhadap ayah tirinya. Iskandar, saudara tirinya, tidak terima akan hal ini dan kemudian mendeklarasikan pemberontakan. Akhirnya, Cheng Ho berhasil mengakhiri perang saudara ini.  
[17]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. xxiv
[18]Op. cit., Nora C Buckley, “the Extraordinary Voyages,” h. 467.
[19]Informasi ini didasarkan pada keterangan yang ada di pahatan batu di Klenteng Sam Po Kong Semarang.
[20]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 194-212
[21]Kwa Tong Hay Setiawan, Mengenal Klenteng Sam Po Kong, Gedung Batu, Semarang, (Semarang : Yayasan Klenteng Sam Po Kong, 1982), h. 12-13, sebagaimana dikutip oleh Fahmi Prihantoro, “Klenteng, Agama, dan Identitas Budaya Masyarakat Cina : Studi Kasus pada Klenteng Tay Kak Sie, Semarang”, tesis, 2006, Universitas Gadjah Mada, tidak terbit.
[22]Hal ini adalah contoh lain dari harmonis dan tolerannya kaum Muslim di Semarang terhadap komunitas lain yang non-Muslim.  Jin Bun merupakan putra dari seorang Putri Cina yang tidak diketahui namanya. Ia adalah istri keempat dari Raja Brawijaya. Menurut babad Tanah Jawi, Putri Champa, istri ketiga Sang  Raja, merasa cemburu kepada Putri Cina tersebut. Karena itulah, Raja Brawijaya akhirnya menghadiahkan Putri Cina yang tengah mengandung kepada Arya Damar. Jadi, Arya Damar adalah ayah tiri Jin Bun. Ia memiliki seorang saudara tiri bernama Kin San. Ketika mereka dewasa, keduanya belajar tentang agama Islam dari Sunan Ampel. Di kemudian hari, Jin Bun yang bergelar Raden Patah berkuasa di Demak, yang merupakan daerah sekaligus kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa,  yang ketiga di Nusantara, dan yang keempat di Asia Tenggara. Semarang kala itu berfungsi sebagai kota pelabuhan. Untuk informasi lebih lanjut lihat Prof Dr Slamet Mulyana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2005), h. 90-97; 193-194.
[23]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho,  h. 61-65.
[24]Informasi ini didapatkan dari wawancara dengan guide di Klenteng Sam Po Kong dan observasi langsung penulis di klenteng tersebut.
[25]Op. cit., Fahmi Prihantoro, “Klenteng, Agama, dan Identitas,″ h. 50-51.


Konsep Durkheim’s and Geertz tentang Agama

Emile Durkheim, seorang antropolog terkenal, mendefinisikan agama sebagai sesuatu yang fungsional, maksudnya sebagai wadah yang bisa menyatukan emosi mendalam pada sekelompok orang tertentu melalui simbol dan ritual yang ia sebut sebagai “kendaraan” bagi perasaan sosial. Agama juga menjadi tempat bagi pengikutnya untuk [1].  Jika teori ini diaplikasikan dalam konteks Klenteng Sam Po Kong, maka tiga kelompok ibadat yang menyembah transenden yang berbeda di tiga kuil memiliki “kendaraan” sendiri (yang akhirnya dianggap sebagai “agama” oleh masing-masing kelompok) yang berfungsi menyatukan masing-masing komunitas. Seperti yang penulis kemukakan di awal makalah, Mehta berpandangan bahwa pada akhirnya agama menjadi identitas sosial.   
Selain Durkheim, selama observasi di lapangan, penulis akhirnya menemukan bahwa konsep Clifford Geertz tentang agama juga dapat menjadi kerangka teori yang sesuai untuk menganalisis fenomena religius yang terjadi di Klenteng Sam Po Kong. Geertz memaknai agama sebagai berikut[2] :
Religion is (1) a system of symbols which acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with such an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic.    
           
Secara sederhana, Pals menyatakan bahwa agama adalah suatu sistem simbol yang mana di balik symbol tersebut terdapat ide-ide yang akan disampaikan kepada pengikutnya. Ide tersebut sangat kuat dan dapat memberikan perasaan damai dan kebahagiaan bagi orang yang melakukan ritual “agama”. Kemudian, perasaan positif tersebut akan menghasilkan “pandangan dunia yang tertinggi”. Kombinasi dari simbol, perasaan, dan pandangan dunia akan menciptakan karakter tertentu dalam setiap ritual keagamaan[3]. 
Lebih lanjut, Geertz menambahkan bahwa “agama merupakan model atas dan dari kenyataan”. Dengan kata lain, simbol dapat membentuk realitas, dan sebaliknya, realitas dapat membentuk simbol. Pada bagian selanjutnya, akan dibuktikan bagaimana simbol dapat membentuk “kenyataan” bahwa seakan-akan transenden yang disembah di tiga kuil tersebut terlihat seakan-akan nyata. Realitas bahwa Laksamana Cheng Ho adalah seseorang yang menghargai perbedaan, dan juga fakta bahwa masyarakat Semarang begitu pluralis, telah memunculkan simbol-simbol sinkretisme di Klenteng Sam Po Kong. 

Kuil Pertama sebagai Penghormatan pada Laksamana Cheng Ho

   Di kuil yang pertama, transenden yang disembah adalah Laksamana Cheng Ho karena, meskipun ia seorang Muslim, ia dianggap berjasa dalam melindungi kaum Tionghoa non-Muslim di Semarang, sekaligus juga dipercaya memiliki kekuatan gaib.  Di samping itu, beberapa kaum Tionghoa yang berdoa pada laksamana Cheng Ho ada yang berpendapat bahwa ia adalah seorang leluhur yang musti disembah[4]. Menurut Joseph Gaer, masyarakat Cina memang terkanal sebagai pemuja roh-roh leluhur, roh-roh orang bijaksana, dan roh-roh para pahlawan dan raja[5].
Sebenarnya, di kuil pertama ini hanya ada gua suci Sam Po Kong di mana ia dapat menggunakan kekuatan supranaturalnya di sini[6]. Di dalam gua ini terdapat sebuah sumur yang dipercaya oleh sebagian anggota komunitas kuil pertama dapat membawa Cheng Ho ke Cina dengan hanya memasuki sumur tersebut. Versi yang lain yang penulis dapat dari guide Klenteng Sam Po Kong, menyebutkan bahwa sumur tersebut dulunya digunakan oleh Cheng Ho untuk mengambil air wudlu.
Menyembah sumur merupakan bukti dari sinkretisme antara abangan dan Islam. Bagi kaum Muslim,sumur dianggap sakral karena tak hanya berfungsi sebagai penyedia air bagi masyarakat sekitar, namun juga simbol kesucian karena dipakai untuk berwudlu. Di masa lampau, Ali, Usman, pemuka Islam, dan para wali membangun sumur untuk menunjukkan pengabdian mereka terhadap Islam. Akan tetapi, kaum abangan justru menyembah sumur, memberikan sesembahan, dan melaksanakan upacara di dekat sumur. Aktivitas semacam ini dikenal dengan nyadran[7].
Jika dianalisis dengan teori Geertz, sumur maupun gua suci Cheng Ho telah memunculkan suatu serangkaian simbol yang menyebabkan timbulnya mood dan motivasi di antara anggota kuil pertama untuk menyembah benda-benda yang dianggap keramat tersebut. Setelah itu, mereka mendapatkan ″pandangan dunia″ yang membuat mereka percaya bahwa Cheng Ho adalah orang suci yang dapat mengabulkan permintaan mereka, walaupun ia tak hadir di sana. Karena itulah, di kuil ini banyak terdapat “surat-surat doa dan harapan” yang digantungkan di langit-langit kuil.
Sementara itu, jika menggunakan pendekatan Durkheim, keyakinan yang berpusat pada klaim bahwa gua suci Cheng Ho memiliki “kekuatan supranatural” telah menjadi “kendaraan” utama yang menyatukan para pengikut kuil pertama ini.
Pengaruh Islam juga didapati pada bedug yang diletakkan di dalam kuil. Bedug semacam ini tidak didapati di dua kuil lainnya. Dalam ritual Budha dan Tao, tidak ada ritual yang menggunakan bedug. Ukuran dan bentuk bedug di kuil pertama ini sangat mirip dengan bedug yang ada di masjid. Hanya warna merah yang membuatnya berbeda dengan bedug-bedug yang lainnya.
Ada pula pengaruh Budha di kuil ini, berupa lonceng besar yang digunakan untuk memfokuskan pikiran selama meditasi. Contoh lainnya adalah  8 Pak Shien[8] yang mengelilingi patung Cheng Ho. Sedangkan pengaruh Tao dapat dilihat dari jumlah genap dari lilin besar di halaman kuil yang merupakan represntasi dari keseimbangan yin dan yang[9].

Kuil Kedua sebagai Tempat untuk Menyembah Kuburan Mbah Juru Mudi

Kuil yang kedua berikut ini ditujukan untuk menyembah makam mbah juru mudi. Tidak hanya arwahnya yang dipercaya menjaga tempat ini, namun jasadnya juga dikebumikan di tempat ini. Fenomena ritual keagamaan semacam ini berakar dari tradisi Islam dan abangan di Indonesia. Bedanya, kaum Muslim non-abangan mengunjungi makam di hari besar Islam (seperti Idul Fitri) untuk mendoakan yang sudah meninggal, sedangkan pengikut abangan berziarah kubur di hari spesial menurut penanggalan Jawa (seperti Jumat Kliwon, Muharram, dll.) dengan tujuan untuk meminta berkah sang arwah. Nur Syam berargumen bahwa masyarakat umumnya lebih memilih makam orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural, seperti makam Mbah Modin Asyari di Tuban. Di makam tokoh yang dikeramatkan itu pula, biasanay terdapat juru kunci yang bertugas menjaga makam dan menjadi guide bagi para pengunjung[10].  Juru kunci semacam ini juga terdapat di kuil kedua.
Selain makam mbah juru mudi, ada tempat lain yang biasanya dipakai para peziarah untuk berdoa dan bermeditasi, yaitu pohon besar yang letaknya persis di samping makam. Gelar “mbah” per se berasal dari bahasa Jawa yang diberikan kepada orang-orang yang memiliki “keahlian khusus”[11]. Tak hanya Tionghoa non-Muslim yang meminta berkah dari makam ini, namun orang Jawa pengikut abangan juga rutin mengunjunginya.
Nisan mbah juru mudi itu sendiri sangat Islami, dengan tulisan Arab yang berupa syahadat di kain penutup peti jenazah. Pada kedua sisi makam, terdapat arca yang persis dengan arca yang pernah penulis lihat di gerbang sebuah kuil Hindu di Yogyakarta. Patung-patung ini dianggap sebagai “penjaga” makam. Budaya Jawa sangat mempengaruhi munculnya arca-arca penjaga seperti ini. Pengaruh dari budaya Jawa yang lain adalah ukiran dan tulisan dengan alphabet Jawa yang berdampingan dengan tulisan Cina.
Ritual penyembahan semacam ini dapat dianalisis menggunakan pemikiran Geertz dan Durkheim. Bagi Geertz, keyakinan akan kekuatan gaib mbah juru mudi telah memotivasi dan menggerakkan orang untuk berdoa di makam ini. Sementara itu, teori Durkheim tentang “ suatu perkumpulan sebagai hal yang sakral” dibuktikan dengan bersatunya kaum abangan dan Cina melalui perasaan komunal yang mempercayai bahwa mbah juru mudi dapat mengabulkan permintaan mereka.  
The Combination Between Taoism and Javanese Abangan Belief in the Third Temple

Kuil ketiga ini merupakan kuil yang paling unik jika dibandingkan dengan kedua kuil sebelumnya karena transenden yang disembah adalah Dewa Bumi, bukan sosok tokoh terkenal seperti Cheng Ho dan mbah juru mudi. Dengan kata lain, para anggota kuil ketiga ini menyembah sesuatu yang abstrak dan sulit untuk diimajinasikan seperti apa rupanya.
Menurut keterangan Sudiyono, salah satu juru kunci di Klenteng Sam Po Kong, konsep Dewa Bumi merupakan pengaruh dari kepercayaan Jawa yang menyembah danjang. Namun, meskipun sangat mirip, Dewa Bumi berbeda dengan  danjang untuk beberapa hal. Pertama, danjang biasanya diyakini sebagai arwah dari figur sejarah yang telah tiada[12], sedangkan Dewa Bumi tidak menjadi representasi bagi orang yang meninggal. Dewa Bumi lebih dianggap sebagai salah satu karakter dewa Cina yang memiliki nama Hok Tek Ching Shin, Fu Te Cheng Sen, or Ta Pe Kong[13]. Kedua, para penyembah danjang diharuskan untuk melaksanakan slametan, sedangkan para pemuja Dewa Bumi hanya cukup berdoa padanya. Yang terakhir, danjang tidak membutuhkan “partner” dalam melaksanakan tugasnya, sementara Dewa Bumi “ditemani” oleh dua dewa lain yang melindungi kuil tersebut, yaitu Dewa Bulan dan Dewa Matahari. Pasangan dewa langit seperti ini terinspirasi dari ajaran Tao akan keseimbangan yin dan yang. Kesimpulannya, di kuil ketiga ini penulis dapat menemukan sinkretisme antara tradisi abangan dan Tao.
Kemudian, jika kita masuk pada kerangka teori Geertz, seperangkat sistem simbol di kuil ketiga ini telah menciptakan motivasi pada siapapun yang percaya akan kekuatan Dewa Bumi  untuk menyembahnya dan menganggap bahwa Dewa Bumi, sebuah wujud yang abstrak, seakan-akan benar-benar nyata. Sementara itu, dalam kacamata konsep Durkheim, keyakinan yang sama akan suatu transenden yang bernama Dewa Bumi telah mengikat para penyembahnya menjadi satu kesatuan komunitas keagamaan.

Belajar dari Cheng Ho : Toleransi dan Pluralisme terhadap Komunitas Agama yang lain (Religious Others)

Sekarang, setelah kita belajar sejarah kegigihan Cheng Ho dalam menyebarkan semangat pluralisme terhadap agama lain, sudah seharusnya kita berusaha untuk meniru sikap Cheng Ho tersebut dengan cara menghargai tradisi lokal dan ritual yang beragam di sekitar kita. Dalam Al-Quran pun, berkali-kali ditekankan tentang pentingnya pluralisme, seperti dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 :
   Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”

Allah mengingatkan lagi tentang tujuan keberagaman manusia dalam Surat Hud ayat 118 :
Jikalau Tuhan menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat
           
Dan Allah mengulanginya lagi dalam Surat Al-Maidah ayat 48:
...Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukanNya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”

Kini, jika kita benar-benar berusaha untuk memahami ayat-ayat Al-Quran di atas, jelas bahwa Allah memang sengaja menciptakan masyarakat dunia yang pluralis agar kita semua belajar untuk saling menghargai perbedaan pendapat dan juga kepercayaan. Itulah sebabnya Allah menggunakan kata mukhtalifin dalam Surat Hud yang berarti perbedaan yang berkonotasi positif, bukan syiqaq yang maknanya perbedaan yang berkonotasi negatif[14].
Setelah mengenal lebih jauh tentang sikap mulia Laksamana Cheng Ho terhadap non-Muslim, yang bahkan hingga kini semangat toleransinya masih dapat dirasakan di Klenteng Sam Po Kong Semarang, kita harus mulai sadar bahwa konflik dan kekerasan dalam menghadapi religious others bukanlah cerminan Islam yang rahmatal lil alamin. Islam yang sesungguhnya adalah Islam yang menyejukkan dan menimbulkan kedamaian serta kebahagiaan bagi Muslim dan non-Muslim. Islam yang sejati adalah Islam yang banyak berdialog, berbagi, dan mendengarkan dan tidak egois.
“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, ” itulah salah satu petuah Rasulullah. Kini kita jauh lebih mengerti mengapa Nabi Muhammad memilih Cina. Selain karena keeksotisan budaya, kehebatan angkatan militernya, dan ilmunya, mugnkin jauh-jauh hari Rasulullah sudah memperkirakan bahwa akan hadir seorang hebat dari Negeri Tirai Bambu yang akan menjadi tauladan di dunia timur dan membawa nilai-nilai pluralisme, termasuk Indonesia. Dialah Jenderal Besar Cheng Ho. Maka, mari menuntut ilmu kemasyarakatan pada Jendral Cheng Ho.       


Kesimpulan
Kemunculan ritual-ritual keagamaan yang berbeda di Klenteng Sam Po Kong terinspirasi oleh sikap Laksamana Cheng Ho yang menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Berdasarkan observasi lapangan yang dilakukan oleh penulis di Klenteng Sam Po Kong Semarang, terdapat sinkretisme agama Islam, Budha, dan Tao dengan abangan. Kerangka teori yang digunakan dalam makalah ini teori tentang “agama” yang dicetuskan oleh Geertz dan Durkheim.  Terakhir, penulis menyarankan agar kaum Muslim di Indonesia mengedepankan perdamaian dan toleransi jika berhubungan dengan penganut agama lain karena memang hal inilah yang diperintahkan dalam Al-Quran.


[1] Daniel Pals, Seven Theories of Religion, (New York: Oxford University Press, 1996), h. 113-114.
[2]Clifford Geertz, Interpretation of Cultures, (New York : Basic Books, 1973), h. 90
[3]Op. cit., Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion, h. 244-246. 
[4]Keterangan ini didasarkan dari juru kunci penunggu kuil pertama dan guide Klenteng Sam Po Kong.
[5]Joseph Gaer, How the Great Religions Began, (New York : American Library, 1959), h. 73.
[6]Op. cit., Prof. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho, h. 64.
[7]Nur Syam, Islam Pesisir, (Yogyakarta : LKiS, 2005), h. 132-133
[8]Adalah patung-patung yang menyimbolkan Dewi Laut.
[9]Sudiyono, sang juru kunci kuil kedua menjelaskan kepada penulis bahwa ada tiga “pasangan” lilin besar, yang bermakna filosofis bahwa segala sesuatu di alam ini harus berpasangan dengan sesuatu yang sifatnya berkebalikan untuk  menjaga harmonisasi semesta, contohnya pria dan wanita, siang dan malam, kejahatan dan kebaikan, dll.
[10]Op. cit., Nur Syam, Islam Pesisir, h. 104-105; 112.
[11]Ibid. Nur Syam, Islam Pesisir, h. 103.
[12]Clifford Geertz, The Religion of Java, (London: The University of Chicago Press, 1960), h. 26. Dalam bukunya yang emrupakan penelitian antropologis ini, Geertz beranggapan bahwa danjang adalah arwah penjaga yang melindungi dan membantu warga desa. Serupa dengan danjang, Dewa Bumi bertugas untuk melindungi orang yang tinggal di sekitar kuil tersebut dari kejahatan dan nasib buruk.
[13]Informasi ini didapat dari wawancara dengan guide Klenteng Sam Po Kong
[14]Alwi Shihab, “Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam, Sebuah Pengantar,″ dalam Sururin (ed.), Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam : Bingkai Gagasan yang Berserak, (Bandung : Penerbit Nuansa, 2005), h. 20.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar