Senin, 18 April 2011

Sejarah Sawunggaling Versi Wiyung

KEHEBATAN Adipati Jayeng Rono dalam kisah masa lalu Surabaya, juga sering dikaitkan dengan “tokoh legendaris” Surabaya lainnya, di antaranya: Sawunggaling. Berbagai versi tentang keberadaan dan ketokohan Sawunggaling ini.

by. Yousri Nur Raja Agam  MH
dalam :http://rajaagam.wordpress.com/2008/11/29/temenggung-mas-ngabehi-sawunggaling

 Versi Wiyung
Masyarakat daerah Wiyung sangat meyakini, bahwa Sawunggaling adalah putera asli daerah itu. Dikisahkan, nama Sawunggaling itu berasal dari dua kata, “Sawang” dan “Galing”. Sawang artinya lihat dan Galing berasal dari kata “aling” atau terhalang. Jadi artinya: penglihatan yang terhalang.
Ceritanya begini: Adipati Jayeng Rono yang hidup bahagia dengan anak isterinya di kepatihan, sebagai kepala pemerintahan ia sering melakukan perjalanan kelililing. Sama dengan pejabat zaman sekarang, di hari-hari tertentu dimanfaatkan untuk santai dan menyalurkan hobi. Zaman dulu belum ada golf maupun tenis. Nah, hobi dan kegemaran Adipati Jayeng Rono adalah pergi berburu ke hutan. Salah satu hutan, tempat sang adipati berburu adalah hutan Wiyung di sebelah barat Surabaya. Sekarang Wiyung sudah menjadi salah satu kecamatan di Kota Surabaya.
Ternyata saat pergi berburu itu, setiap akan memasuki hutan mata sang adipati selalu “singgah” di sebuah gubuk. Di dalam gubuk itu tinggal keluarga yang mempunyai seorang gadis cantik. Lama kelamaan perburuan sang adipati, tidak lagi tertuju kepada binatang-binatang dalam hutan. Tetapi, justru kemudian menancapkan panah asmaranya kepada si gadis cantik dari Wiyung itu. Dalam kisah ini, nama sang gadis dianggap tidak penting. Yang jelas, gadis ini merupakan kembang desa dan primadona di kampung pinggir hutan itu.
Dari kunjungan tidak rutin itu terjadilah hubungan rahasia antara sang adipati dengan gadis Wiyung ini. Hanya para pengawal dan mungkin sebagian warga desa yang mengetahui permainan asmara ke dua insan ini. Si ayah dari putri desa inipun tidak menghalangi, anaknya dipacari orang kaya. Dan mungkin pada mulanya si ayahpun tidak tahu, kalau pria itu adalah Adipati Jayeng Rono.
Perselingkuhan sang pejabat ini memang sangat rahasia, sehingga sama sekali tidak bocor di keraton. Keintiman sang adipati dengan gadis Wiyung itu akhirnya  mendapat restu ayah si gadis. Jadilah gadis desa itu “isteri simpanan” sang adipati. Dari perkawinan itu lahir seorang anak laki-laki yang dikenal dengan nama Sawunggaling.
Demi menjaga keutuhan keluarga keraton, Adipati Jayeng Rono melarang Sawunggaling dan keluarganya ke wilayah keraton. Nasihat sang ayah ini benar-benar dipatuhi Sawunggaling, maupun ibunya. Sawunggaling tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Salah satu kegemaran Sawunggaling adalah memelihara ayam jago dan sering mengikuti adu ayam di kampungnya.
Pemerintahan Adipati Jayeng Rono terus mengalami kemajuan. Suatu hari untuk menetapkan seorang Temenggung, adipati kesulitan. Adipati Jayeng Rono yang juga punya hobi sabung ayam menyelenggarakan pertandingan sabung ayam terbuka. Hadiahnya, kepada pemilik ayam jago yang menang dan dapat mengalahkan ayam jago sang adipati, akan dinobatkan sebagai Temenggung.
Sawunggaling yang mendengar ada pertandingan sabung ayam itu, minta izin kepada ibunya untuk ikut pertandingan sabung ayam di alun-alun keraton Surabaya. Ternyata dalam pertarungan itu, ayam jago Sawunggaling berhasil mengalahkan ayam jago Jayeng Rono. Sesuai dengan janji sang adipati, maka kemudian dinobatkanlah Sawunggaling menjadi Temenggung di keraton Surabaya.
Setelah dinobatkan menjadi Temenggung, Sawunggaling bersama ibunya tinggal di ketemanggungan, tidak jauh dari keraton adipati. Namun, bagaimana kemudian peran temenggung dalam pemerintahan Adipati Jayeng Rono tidak jelas. Bahkan, bagaimana kehidupan dan kelanjutan kisah Sawunggaling, tidak jelas juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar