Selasa, 05 April 2011

POLA TATA LETAK RUANG HUNIAN-USAHA PADA RUMAH TINGGAL TIPE KOLONIAL DI PUSAT KOTA TUBAN

Laksmi Kusuma Wardani
Dosen Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain
Universitas Kristen Petra Surabaya
ABSTRAK
Kota Tuban merupakan salah satu kota perdagangan yang cukup ramai karena
wilayahnya dilalui jalan Daendels yang dibuat pada era kolonial. Posisinya yang berada
di jalan regional Surabaya-Babat-Tuban-Semarang-Jakarta menjadikan kota tersebut
sebagai fokus dari sistem sirkulasi kendaraan kota dan antar kota. Kota Tuban
berkembang menjadi kota perdagangan seiring dengan timbulnya lingkungan rumahrumah
mewah yang dihuni oleh orang eropa dan pedagang cina kaya, yang secara tidak
langsung mempengaruhi bentuk pola lingkungan permukiman di pusat kota, yang
berdampak pada munculnya rumah-rumah tinggal sebagai tempat usaha dengan pola tata
letak ruang yang beragam.
Pola tata letak ruang bervariasi sebagai dampak aktivitas hunian-usaha, yaitu hunian
merangkap perdagangan (usaha tembakau, tembakau dan ternak, tembakau dan toko,
usaha mebel dan ternak, usaha hasil bumi, dan toko). Selain itu, proses penggunaan ruang
mengalami perubahan yang bersifat statis, berupa penambahan fungsi (dengan
penambahan ruang) dan peningkatan kualitas ruang (dengan penyempurnaan sebagian
ruang). Pemanfaatan ruang hunian-usaha mengalami perubahan karena pertimbangan
faktor ekonomi dan aktivitas usaha. Perubahan yang terjadi mempengaruhi zoning dan
organisasi ruang, namun demikian identitasnya sebagai pola grid tetap dipertahankan.
Kata kunci : pola tata letak ruang, hunian usaha, rumah tinggal tipe kolonial
ABSTRACT
Tuban is one of the most bustle trading town because its territory passed by
Daendels Road that had been made in colonial era. Position stayed at regional road
Surabaya-Babat-Tuban-Semarang-Jakarta made that city as a focus from vehicle
circulation among same city or another city. Tuban developed as a trading town as long
as the growth of luxuriant houses that had been occupied by europeans and chinese rich
merchant, that make some not directly influence to the shape formation of residence
environment in the center of city, given some effect with growing place of stay that used
as a place of trading with difference space formation arrangement.
Space formation arrangement is various as an effect of stay-trade activity, which
mean is resident combined with trading (tobacco trading, tobacco and livestock, tobacco
and store, furniture and live stock trading, agricultural produce trading, and shop). More
over, used of space process was changing statically, that is function increasing (with
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
38
space increasing) and space quality increasing (with completing some of space). The use
of stay-trade space had some changes because of economic factor opinion and trading
activity. The changing effect to zoning and space organization, nevertheless the identity
as grid formation still being used.
Key words: space formation arrangement, stay trade, the colonial type of resident
PENDAHULUAN
Pada akhir abad ke – 19, menurut Gill dalam Noor (1999:1), diungkapkan bahwa
kota-kota kolonial dirancang berpola grid, yang dijadikan sebagai pola tipikal kota pada
masa itu. Periode pembentukan kota antara tahun 1900 hingga tahun 1950 ditandai
dengan pencarian dan penyesuaian bentuk kota gaya Eropa ke dalam pola kota tropikal
kepulauan Indonesia. Kota pada awal abad 20 dipisah menjadi empat bagian berdasarkan
kelompok etnis (Eropa, Cina, Jawa, Madura). Masing-masing kelompok etnis hidup
secara terpisah. Interaksi antar kelompok semata-mata terjadi pada saat saling
membutuhkan dalam perdagangan dan pekerjaan. Pembagian fisik dan sosial budaya kota
pada saat itu diatur oleh dominasi tata cara Belanda yang secara tegas menandai struktur
morfologi kota kolonial Jawa. Struktur kota seperti ini, mengakibatkan terjadinya
percampuran budaya Eropa, Cina dan pribumi (inlander), termasuk di dalamnya
percampuran pada bentuk arsitektur dan persyaratan pada perancangan interior rumah
tinggalnya.
Struktur kota permukiman di Jawa dan pulau lainnya hampir sama, dilandasi oleh
prinsip yang sama menuju pembentukan pola yang seragam di setiap kota. Pola ini
didominasi oleh benteng, struktur pertahanan yang dekat dengan tempat tinggal,
pertokoan, gereja, dan kantor (yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat bekerja)
(Noor, 1999:14). Pemerintah kolonial telah mencoba untuk mengangkat alun-alun sebagai
pusat dari struktur pemukiman urban di Jawa. Untuk kawasan huniannya dikembangkan
dua pendekatan yaitu perancangan formal rumah tinggal berhalaman dan perbaikan
lingkungan fisik kampung-kota. Namun bentuk pola seremonial kota ini kurang begitu
kelihatan di ibukota kecamatan, karena yang penting dalam tata ruang kota karesidenan
adalah menciptakan citra kekuasaan kolonial dengan figur dan struktur kekuasaan lokal.
Selain itu, kekuasaan pusat memberi pengaruh kuat terhadap fungsi kabupaten dalam
mendistribusikan kekuasaan ke bawah, yang hanya memberikan wedana sebagai
Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
39
pengawas dan penjaga keamanan saja. Kota kawedanan adalah tempat dimana asisten
residen berada, kota kawedanan ini menjadi pusat dari kawasan setara kecamatan
(sekarang) yang disebut landschappen (Wiryomartono, 1995:145-146).
Pusat kota juga dipandang sebagai satuan komunitas yang mempunyai ikatan dengan
wilayah perumahan sekitarnya. Bila pusat kota merupakan awal pertumbuhan dari
perumahan, maka pusat kota berfungsi pula sebagai pusat pemerintahan, perdagangan,
hiburan dan kebudayaan kota. Sebagai pusat pemerintah, pusat kota merupakan tempat
kerja dari pegawai pemerintah dan perkantoran lingkup daerah. Sebagai pusat
perdagangan, pusat kota adalah tempat masyarakat menjual dan membeli barang
kebutuhan dengan beberapa pilihan, tempat usaha komersial dan profesional berupa
pertokoan dan pasar. Sebagai pusat hiburan dan kebudayaan, pusat kota adalah tempat
warga kota memperoleh hiburan, rekreasi dan pengetahuan melalui tempat-tempat
pertunjukan umum. Pusat kota juga merupakan fokus dari sistem sirkulasi kendaraan kota
dan antar kota (Gibbert, 1959 : 55)
TUBAN SEBAGAI PUSAT KOTA
Sejarah memberikan petunjuk, bahwa Tuban mempunyai peranan gemilang sebagai
bandar dagang interinsulair maupun internasional, disamping mempunyai letak strategis
maritim, yang oleh sejarah berulang-ulang sudah dibuktikan, antara lain : tentara
ekspedisi Kubilai Khan mendarat di wilayah Tuban, tentara Jepang pada permulaan
perang dunia ke II dan tentara kolonial Belanda pada perang kemerdekaan yang pertama
(Soeparmo,1983:10). Kecamatan Tuban yang wilayahnya terdiri atas 17 desa atau
kelurahan merupakan pusat kota kabupaten Tuban, wilayahnya dilalui jalan regional
Surabaya-Babat-Tuban-Semarang-Jakarta, jalan utama di bagian utara yang menghubungkan
Surabaya dengan Semarang atau Jakarta, jalan yang penting dan teramai di
kabupaten Tuban. Hal ini menunjukkan kota Tuban sebagai pusat kota merupakan fokus
dari sistem sirkulasi kendaraan kota dan antar kota. Selain transportasi darat, terdapat
pula sarana transportasi laut, pelabuhan BOOM yang sampai dengan saat ini masih
difungsikan sebagai pusat perdagangan hasil kekayaan laut.
Berdasarkan letak geografisnya, pusat kota Tuban dikelompokkan menjadi dua
bagian. Pertama, daerah perdagangan di bagian utara jalur arteri primer (melewati jalan
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
40
Daendels), pusat pertokoan, pusat pemerintahan dan alun-alun (penggunaan wilayah
terbanyak untuk aktivitas perdagangan). Kedua, daerah perdagangan di bagian selatan
jalur arteri primer namun masih dalam wilayah pusat kota Tuban, terdapat pasar bebas,
pusat pertokoan dan kantor kecamatan.
Rumah tinggal di seputar daerah perdagangan banyak ditempati tipe rumah kolonial,
baik yang masih asli maupun yang telah ditransformasi menjadi hunian – usaha, hal ini
berkaitan dengan kemudahan untuk memperoleh sumber pendapatan dan aksesibilitas
terhadap jalur kendaraan umum. Bila diperhatikan, ternyata dua pusat perdagangan di
atas merupakan daya tarik utama bagi konsentrasi rumah tinggal.
Gambar 1. Letak elemen-elemen kota di pusat kota Tuban
KOMUNITAS PEDAGANG CINA DI PUSAT KOTA TUBAN
Perkembangan kawasan pusat kota biasanya selalu diikuti dengan tumbuhnya
permukiman padat di sekitarnya (Amiuza dalam Noor, 1999:2) dikarenakan adanya
interaksi timbal balik di antaranya, yang mengakibatkan timbul lingkungan rumah-rumah
mewah yang dihuni oleh orang-orang Eropa atau pedagang Cina kaya, dan disekitarnya
tumbuh kampung-kampung komersial terdapat toko-toko, tempat kerja yang sekaligus
tempat tinggal.
Adanya desakan untuk membuka diri dalam proses ekonomi Hindia Belanda agar
terjadi kerja sama dengan suku lain menyebabkan kelompok etnis Cina mengkhususkan
Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
41
diri dalam pekerjaan yang khas. Hoetink mengungkapkan, baik sebelum maupun dalam
zaman VOC, orang cina di Hindia Belanda lebih suka bergiat dalam bidang perdagangan.
Keterbatasan ruang gerak yang ditimbulkan oleh struktur perekonomian Hindia Belanda
pada saat itu menyebabkan keturunan etnis Cina Tionghoa terpaksa turun ke dunia
perdagangan perantara atau compradore (berasal dari kata latin comparare, yang berarti
perantaraan) yakni, pengusaha cina menjadi penghubung lalu lintas perdagangan
internasional dengan penduduk setempat. Peran perantara itu mereka mantapkan dengan
memahami kebutuhan penduduk setempat (umumnya compradore adalah seorang
pengusaha cina yang mendekatkan bisnis pengusaha cina dengan pengusaha atau bank
Eropa) seperti yang diungkapkan oleh Widyahartono (1989:136). Baru pada tahun 1920-
an, imigran yang berasal dari negera Cina terserap dalam bisnis skala menengah dan
kecil. Di antara mereka ada yang menjadi pemilik, tetapi sebagian besar adalah pegawai.
Kendati secara eksplisit tidak dinyatakan bahwa mereka dibatasi, pada kenyataannya
perkembangan dan pertumbuhan bisnis orang cina sebagai perantara benar-benar
tergantung pada pengaturan Belanda.
Ada beberapa bidang bisnis yang diusahakan orang cina, seperti pengolahan beras,
rokok (cerutu, putih, keretek), bata merah dan genting, batik, mebel dan rotan. Di Jawa
dan Madura, termasuk Tuban perdagangan tembakau banyak dikuasai orang cina.
Pengusaha cina umumnya bertindak sebagai tengkulak tembakau krosok untuk
perusahaan Eropa. Tetapi ada pula yang memusatkan diri pada pembelian tembakau yang
menyuplai kebutuhan perusahaan Cina yang besar. Juga ada yang berperan independen,
yang menjual tembakau krosok untuk pasaran setempat (Widyahartono, 1989:13).
Komunitas-komunitas pedagang Cina tersebut memberi dampak pada akses kegiatan
perdagangan di pusat kota Tuban, yang secara tidak langsung mempengaruhi bentuk pola
lingkungan pemukiman, yang berdampak pada munculnya rumah-rumah tinggal sebagai
tempat usaha. Motivasi bertempat tinggalpun mengalami perubahan sejalan dengan
waktu. Menurut Seeley (dalam Noor, 1999:19) motivasi kelompok penghuni di pusat kota
terdiri dari empat kelompok yaitu permanent necesitarians, temporary necesitarians,
permanent opportunist dan temporary opportunists.
Di pusat kota Tuban, pemakai rumah tinggal (baik pemilik maupun penerus) dapat
digolongkan sebagai permanent necesitarians, dengan pertimbangan faktor lamanya
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
42
bertempat tinggal rata-rata 10-20 tahun atau lebih, yang menumbuhkan keterikatan
penghuni dengan komunitasnya. Mayoritas usaha yang dikerjakan merupakan pekerjaan
pokok yang mengharuskan penghuni untuk tetap tinggal di dalam rumah tinggalnya,
meskipun ada pula beberapa yang dilakukan di luar pusat kota Tuban. Jenis usaha
tersebut membutuhkan pekerja atau karyawan relatif cukup banyak, yang berasal dari
penduduk sekitar (rata-rata jumlah karyawan lebih dari 10 orang). Selain itu, lokasi
rumah tinggal kolonial di pusat kota Tuban sangat strategis, karena berada di antara
elemen-elemen kota seperti pusat perbelanjaan, perkantoran dan transportasi yang mudah
dijangkau pemakai rumah tinggal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa telah
terjadi interaksi simbiotik antara pemakai rumah tinggal dengan lingkungannya yang
lebih berorientasi pada hubungan sosial ekonomis.
RUANG SEBAGAI RUMAH TINGGAL DAN USAHA
Ruang-ruang dalam sebuah rumah tinggal selalu berhubungan dengan aktivitas
manusia, ruang tidak hanya indah dalam warna, bentuk dan rupa, tetapi juga menunjang
terbentuknya tingkah laku, pengorganisasi gaya hidup, dan dapat menggugah daya
khayal, serta dapat menyumbangkan secara nyata untuk ketentraman, kesenangan dan
pertumbuhan manusia yang tinggal di situ, serta memperkenalkan kenikmatan pribadi,
rasa aman, dan membuktikan bahwa ruang yang ada hubungannya dengan kepribadian
dapat menunjang lingkungan hidup dimana kita tinggal menjadi lebih baik.
Di pusat kota Tuban, terdapat beberapa rumah tipe kolonial yang beragam. Untuk
mengamati bahwa rumah tinggal menunjukkan ciri-ciri rumah kolonial menggunakan
pengamatan tampang rumah, yang menurut Priyotomo (1987) membedakan beberapa
tampang rumah, yakni:
1. Tampang rumah tipe kolonial pertama, dengan ciri-ciri tampang bangunan ornamental
penggarapan atau penyelesaian detil cermat (tapi bukan ruwet), pintu dan jendela
tinggi sehingga terkesan menegak (vertikal) yang kuat, penataan unsur dan komponen
tampang cenderung setangkup.
2. Tampang tipe tahun 1950-an (tipe jengki), memiliki ciri-ciri menghilangkan ornamen,
menampilkan dekorasi berupa garis geometrik, penyelesaian detil lugas, harafiah,
pintu dan jendela masih senada dengan tipe kolonial, penataan sudah tidak setangkup,
tetapi pintu rumah telah bergeser ke pinggir.
Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
43
3. Tampang tipe ketiga adalah tipe tahun 1970-an, yaitu tipe rumah dengan ciri-ciri tidak
menampilkan ornamen atau dekorasi, penyelesaian detil tidak khusus, lebih harafiah,
pintu dengan jendela lebar atau dengan jendela nako, penataan seperti tipe 1950-an.
4. Sedangkan tipe terakhir adalah tipe campuran yaitu penggabungan antara tipe 1970-an
dengan salah satu tipe yang ada (tipe kolonial atau 1950-an). Cirinya adalah bagian
pintu-jendela, yakni tubuh bangunan menunjukkan tipe 1970-an sementara bagian
kepala bangunan dari tipe kolonial atau 1950-an. Tipe ini hadir sebagai hasil
peremajaan (vermaakt) bangunan lama. Selain ciri-ciri tersebut di atas, pengamatan
terhadap warna cat, tekstur bahan dan ventilasi juga bisa memperlengkap ciri-ciri
masing-masing tipe.
Gambar 2. Tampang rumah terlihat ornamental memperlihatkan ciri-ciri tipe kolonial pertama, penyelesaian
detil cukup cermat, kolom dan pintu terkesan tinggi (Dokumentasi penulis, 2004)
Gambar 3. Penataan cenderung setangkup, ornamen sangat dominan garis geometrik, penyelesaian detilnya
tidak rumit memperlihatkan ciri-ciri pengaruh tipe kolonial pertama (Dokumentasi penulis, 2004).
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
44
Gambar 4. Atap sudah tidak setangkup, pintu sudah bergeser ke samping, unsur geometris terlihat sangat
dominan pada bentuk bangunan, pintu, dan jendela menunjukkan ciri-ciri tipe 50-an (Dokumentasi penulis,
2004).
Gambar 5. Tidak terlihat adanya ornamen yang ruwet, tetapi terlihat adanya dekorasi berupa garis geometrik,
penyelesain detilnya lugas, dan ada pintu di samping yang memperlihatkan ciri-ciri tahun 50-an
(Dokumentasi penulis, 2004)
Selain tampang rumah yang menunjukkan ciri-ciri kolonial, pertimbangan
penyusunan atau organisasi ruang menjelaskan tingkat kepentingan dan fungsi ruangruang
tersebut secara relatif atau peran simbolisnya di dalam suatu organisasi bangunan.
Pola grid yang dijadikan pola tipikal kota pada abad ke-19 mempengaruhi perencanaan
organisasi ruang pada rumah tinggal.
Organisasi grid terdiri atas bentuk-bentuk dan ruang-ruang dimana posisinya dalam
ruang dan hubungan antar ruang diatur oleh pola grid tiga dimensi atau bidang. Oleh
karena sebuah grid tiga dimensi terdiri atas unit-unit modul ruang yang berulang, maka
hal ini dapat dilakukan pengurangan, penambahan atau dibuat berlapis, dan identitasnya
sebagai sebuah grid tetap dipertahankan oleh kemampuan mengorganisir ruang-ruang.
Selain itu, manipulasi bentuk dapat digunakan untuk mengadaptasi sebuah bentuk grid
terhadap tapaknya, menetapkan tempat masuk atau ruang luar atau memungkinkannya
pertumbuhan dan perkembangan (Ching, 1999:238-239). Sewaktu menghadapi strukturPola
Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
45
struktur yang sudah ada, ruang-ruang yang tersedia biasanya memberikan beberapa
indikasi seperti bagaimana ruang tersebut dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Gambar 6. Ragam pola grid ruang hunian tipe kolonial di Tuban (identitas sebagai
sebuah grid tetap dipertahankan walaupun bentuk dan organisasi ruangnya bervariasi)
Jalan masuk ke suatu ruang dapat membentuk pola sirkulasi yang membagi ruang
menjadi zona-zona tertentu. Beberapa zona mungkin lebih siap dimasuki dibandingkan
dengan zona lainnya. Beberapa aktivitas mungkin terlihat cukup besar untuk dapat
menampung aktivitas kelompok, sementara yang lain tidak (Ching, 1996:72). Zoning
bangunan dapat dibagi dalam beberapa kelompok utama yaitu publik, semi privat, privat,
daerah servis, daerah sirkulasi. Ruang privat adalah ruang perorangan atau wilayah
pribadi di sekitar tubuh seseorang yang tidak dapat dimasuki tanpa orang tersebut merasa
kehormatannya terancam, terlanggar atau tidak diganggu kesendiriannya. Ruang semi
privat seperti ruang keluarga adalah ruang umum yang diambil alih oleh keluarga melalui
pemakaian yang tetap. Tingkat penguasaan memberikan kepada si pemakai perasaan
keakraban dan kebebasan. Sedangkan ruang publik adalah ruang yang bebas bagi setiap
orang untuk melintasinya (Snyder, 1979 : 212). Di pusat kota Tuban ada beberapa macam
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
46
perkembangan zoning, antara lain hunian-usaha tembakau atau hunian-usaha mebel &
ternak, hunian-usaha tembakau-ternak, hunian-usaha tembakau & toko, hunian-usaha
hasil bumi, hunian-usaha toko.
R. Tidur
R. Keluarga
R. Tamu
Jalan
Halaman
Batas nyata (pintu)
Batas nyata (pintu)
Semi Privat
Semi Privat
Semi Publik
Semi Publik
Publik
Semi Publik
Semi Publik
Privat
Batas nyata (pintu)
Privat
Semi Publik
Semi Publik
Publik
Gambar 7. Hirarki ruang pada
rumah kolonial (Noor : 1999:71)
Gambar 8. Hunian-usaha tembakau
dan huni-usaha mebel & ternak
Semi Publik
Semi Publik
Privat
Semi Publik
Publik
Batas nyata (pintu)
Batas nyata (pintu)
Semi
Privat
Privat
Semi Privat
Semi Publik
Semi Publik
Semi Publik
Semi Publik
Semi Privat
Privat
Publik Batas nyata
(pintu)
Gambar 9. Zoning hunian-usaha
tembakau & ternak
Gambar 10. Zoning hunian-usaha
tembakau & toko
Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
47
Dari perkembangan zoning tersebut di atas tampak bahwa penambahan fungsi pada
rumah tinggal menjadi hunian-usaha berpengaruh terhadap zoning ruang. Perubahan
yang mempengaruhi zoning adalah penambahan ruang sebagai akibat pemenuhan
aktivitas usaha dan penyempurnaan sebagian ruang untuk peningkatan kualitas
kebutuhan rumah tangga.
Gambar 13. Penambahan ruang ke depan
Semi Publik
Semi Publik
Semi
Privat
Semi Privat
Privat
Batas nyata
(pintu)
Batas nyata
(pintu)
Publik
Semi Publik
Semi Privat
Semi
Privat
Privat
Semi Privat
Batas nyata
(pintu)
Publik
Batas nyata
(pintu)
Gambar 11. Zoning hunianusaha
hasil bumi
Gambar 12. Zoning hunian-usaha
toko sepeda
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
48
Penambahan ruang maupun penyempurnaan sebagian ruang juga menunjukkan
aktivitas usaha termasuk dalam zoning semi publik, karena ruang ini masih tergolong
bebas bagi setiap orang untuk melintasinya dan bekerja. Sedangkan untuk ruang hunian
sebagai wadah aktivitas rumah tangga tergolong privat dan semi privat, karena
kebanyakan zona ini digunakan oleh pemilik, penerus atau pengurus rumah.
Gambar 15. Zoning hunian-usaha rumah tinggal kolonial di kecamatan Tuban
Zona Usaha
Zona Hunian
Zona Usaha/
Halaman
Jalan
Semi Publik
Semi Publik
Privat atau
Semi Privat
Publik
Gambar 14. Penambahan ruang ke belakang
(hunian-usaha tembakau & ternak)
Gambar 15. Penyempurnaan sebagian
ruang (hunian-usaha tembakau)
Pola Tata Letak Ruang Hunian-Usaha Pada Rumah Tinggal Tipe………. ( Laksmi Kusuma Wardani)
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
49
Dari ragam zoning dan penambahan ruang tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa
zoning untuk huni-usaha memiliki kecenderungan yang sama walaupun jenis usahanya
berbeda. Dan batas nyata yang memisahkan ruang semi publik dengan semi privat adalah
pintu.
Lokasi tempat hunian-usaha pada umumnya berada di pusat kota. Hal ini seperti
yang diungkapkan Turner & and Fichter (1972) bahwa pemilihan lokasi rumah huniusaha
mempertimbangkan kemudahan transportasi. Kemudahan ini menunjukkan daya
tarik kuat dalam mengurangi beban biaya pemilik rumah dan keterikatan dengan
komunitasnya karena karyawan yang dibutuhkan relatif banyak. Sedangkan lingkungan
menyediakan jumlah karyawan yang dibutuhkan.
Selain itu, pemilik rumah tinggal dominan memiliki satu jenis usaha, berarti bahwa
pekerjaan tersebut berstatus pekerjaan pokok. Akan tetapi, ada pula yang memiliki dua
atau tiga jenis usaha. Ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan akan biaya hidup
belum tentu tercukupi hanya dengan satu jenis usaha. Dengan demikian pemilik rumah
cenderung menetap, karena status pekerjaan maupun kemudahan yang diperoleh dengan
bertempat tinggal di lingkungan yang ditempati, seperti kemudahan untuk mendapatkan
kesempatan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
SIMPULAN
Pemilik atau penerus atau pengurus rumah tinggal tipe kolonial di pusat kota Tuban
tergolong sebagai permanent necesitarians, karena status pekerjaan, kedekatan hubungan
dengan aktivitas pusat kota (pusat perbelanjaan, perkantoran, dan kemudahan
transportasi), serta kebutuhan pekerja atau karyawan.
Pemanfaat ruang hunian-usaha mengalami perubahan karena faktor ekonomi, antara
lain dengan penambahan fungsi dan peningkatan kualitas rumah yang berorientasi pada
lingkungan tempat tinggal baik fisik maupun non-fisik. Perubahannya berupa
penambahan ruang ke depan atau ke belakang, serta penyempurnaan sebagian ruang.
Perubahan tersebut juga mempengaruhi zoning dan bentuk organisasi ruang.
Kecenderungannya memiliki zoning yang sama walaupun jenis usahanya berbeda, hal ini
dimungkinkan karena identitasnya sebagai grid tetap dipertahankan walaupun bentuk tata
letak bervariasi.
Dimensi Interior, Vol. 2, No. 1, Juni 2004: 37 - 50
Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni dan Desain – Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/
50
REFERENSI
_____1996. Ilustrasi Desain Interior. Jakarta : Erlangga.
_____1999. Arsitektur : Bentuk, Ruang dan Susunannya. Jakarta: Erlangga.
Gibbert, Frederick, I. 1959. Town Design. USA : Frederick Aprenger. Inc.
Noor, Sri Utami. 1999. Penggunaan Ruang Hunian-Usaha Pada Lahan Perumahan
Sebagai Dampak Aktivitas Perdagangan Di Kawasan Pusat Kota Lawang.
Malang : Univ. Brawijaya.
Prijotomo, et al. 1987. Komposisi Olah Tampang Arsitektur Kampung, Telaah Kasus
Kampung Surabaya. Surabaya : ITS.
Snyder, James, C. 1979. Introduction To Urban Planning. New York : Mc.Graw-Hill
Book Company.
Soeparmo, R. 1983. 700 Tahun Tuban. Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban.
Turner, John, F. C & Fichter, Robert. 1972. Freedom To Build : Dweller Control of
Housing Process. New York : The Mac Millian Company.
Widyahartono, Bob. 1989. Dalam J.L. Vleming, Het Chineeseche Zakenleven
Nederlandsch-Indie (1926). Jakarta : PT. Pustaka Utama Grafiti.
Wiryomartono, A. Bagoes, P. 1995. Seni Bangunan dan Seni Bina Kota di Indonesia .
Jakarta : Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar